ADB: Bangun ketahanan terhadap inovasi iklim juga tekanan panas

Market29 Dilihat

Tbilisi, Georgia –

Asian Development Bank (ADB) menekankan keperluan mendesak untuk meningkatkan ketahanan, khususnya di mengatasi pembaharuan iklim, lalu tekanan panas juga dampaknya terhadap pertanian, infrastruktur, kesehatan, serta kesetaraan gender.
 
Hal yang disebutkan disampaikan Presiden ADB Masatsugu Asakawa pada membuka Pertemuan Tahunan ke-57 Dewan Pengurus ADB di dalam Tbilisi, Georgia, Sabtu.
 
"Kita bersatu pada ketika rakyat pada wilayah kita menghadapi tantangan yang memerlukan perhatian lalu koordinasi yang erat. Konsekuensi inovasi iklim bukan henti-hentinya, dan juga risiko konflik dan juga krisis dapat dengan cepat melemah penghidupan lalu bahkan kelangsungan hidup masyarakat," kata Masatsugu.
 
Untuk itu, pengerjaan ke depan juga harus memprioritaskan ketahanan lalu kesiapsiagaan menghadapi pembaharuan iklim dan juga dampaknya. Kondisi yang disebutkan membutuhkan aksi nyata dari seluruh pihak sehingga mampu bekerja mirip merancang jembatan menuju masa depan yang dimaksud sejahtera, inklusif, berketahanan, lalu berkelanjutan.
 
"Ancaman inovasi iklim ini tak mampu diabaikan, dan juga respons kita bukan dapat ditunda," ujarnya.
Lebih lanjut ia menuturkan tahun 2023 merupakan tahun terpanas yang dimaksud pernah tercatat. Tekanan panas telah lama berdampak terhadap rakyat kemudian menjadi ancaman terhadap pengerjaan pada masa depan.
 
Tanaman pangan juga sistem pangan semakin rentan. Mencairnya gletser menyebabkan kehancuran besar dalam bagian hilir. Selain itu, para pekerja, mulai dari ladang hingga pabrik, teristimewa perempuan, sangat menderita akibat tekanan panas.
 
Tekanan panas merupakan ancaman besar pada bermacam dimensi mulai dari ketahanan pangan, infrastruktur, sumber daya air, kesehatan, pekerjaan, hingga kesetaraan gender.
 
"Oleh dikarenakan itu, masa depan bergantung pada bagaimana kita memperkuat masyarakat, sektor, serta habitat yang dimaksud terkena dampak panas," tuturnya.
 
Dalam acara tersebut, Presiden ADB juga menekankan pentingnya pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk peningkatan inklusif, sekaligus menegaskan penerapan kecerdasan artifisial yang dimaksud bertanggung jawab dan juga memitigasi risiko seperti bias kemudian kurangnya transparansi.
 
Masatsugu juga menyoroti tentang globalisasi dan juga menganjurkan kerja sebanding regional yang dimaksud tambahan di untuk mendirikan perekonomian yang dimaksud lebih banyak ramah lingkungan kemudian terbuka, menolak proteksionisme demi menguatkan rantai pasokan yang mana tangguh lalu mengempiskan emisi karbon.
 
Selain itu, ia juga menyatakan pentingnya memperkuat kelompok rakyat yang dimaksud paling rentan, satu di antaranya mereka yang berada di dalam negara-negara kepulauan kecil, melalui pembiayaan lunak kemudian inisiatif perkembangan inklusif.
 
"Jembatan kita menuju masa depan tiada boleh mengabaikan dia yang digunakan paling membutuhkan," katanya.
 
Masyarakat termiskin dan juga paling rentan, satu di antaranya yang dimaksud tinggal di dalam negara-negara kepulauan kecil, menghadapi beban terberat akibat inovasi iklim, guncangan ekonomi, dan juga konflik.
 
Pembiayaan harus terus mencakup sumber daya dengan persyaratan lunak, di antaranya hibah.
 
"Mari kita progresif bersama, merancang jembatan menuju Asia kemudian Pasifik yang tersebut lebih besar sejahtera, inklusif, berketahanan, kemudian berkelanjutan," ujarnya.
 
Asian Development Bank (ADB) kemudian para donor menyetujui penambahan dana sebesar 5 miliar dolar Amerika Serikat untuk Dana Pembangunan Asia atau Asian Development Fund (ADF) 14 juga Technical Assistance Special Fund (TASF) 8 milik ADB.
 
Penambahan dana ADF 14 untuk memperkuat penduduk paling rentan ke Asia dan juga Pasifik yang disebutkan disepakati pada Pertemuan Tahunan ke-57 ADB di Tbilisi, Georgia.
 
ADF 14 memprioritaskan bantuan khusus untuk negara-negara tumbuh kepulauan kecil yang digunakan sangat rentan khususnya terhadap pembaharuan iklim, serta terhadap negara-negara yang digunakan berada pada situasi rentan kemudian terkena dampak konflik.

Artikel ini disadur dari ADB: Bangun ketahanan terhadap perubahan iklim dan tekanan panas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *