Alasan Bule Cebok Pakai Tisu Bukan Pakai Air, Karena…

Entrepreneur20 Dilihat

IDN Bisnis

Jakarta, CNBC Indonesia – Soal urusan toilet serta cebok, dunia seakan terpisah menjadi dua bagian: kelompok cebok pakai air serta pasukan cebok pakai tisu. Biasanya, mayoritas yang dimaksud memakai air berasal dari dunia Timur. Sementara pemakai tisu adalah publik Barat.

Lalu, mengapa ini bisa saja terjadi?

Kebiasaan membersihkan kotoran usai buang air besar sebenarnya telah terjadi sejak lama. Dan setiap wilayah miliki budayanya berbeda, tetapi pada waktu itu tentu tidaklah menggunakan tisu. 

Biasanya, dia membersihkan kotoran sesuai adat istiadat kemudian kondisi iklim. Bisa dengan air, dedaunan, rumput, batu, atau hanya sekali tangan saja.

Seperti yang terjadi di tempat Romawi pada abad ke-6 SM. Penduduknya menggunakan batu untuk cebok. Atau penduduk Timur Tengah yang dimaksud menggunakan air untuk membersihkan kotoran sebab sesuai ajaran agama. 

Dalam riset “Toilet hygiene in the classical era” (2012), pemanfaatan tisu sebagai pembersih kotoran justru terdeteksi pertama kali di area China, bukanlah dunia Barat. Kala itu, penduduk China berhasil menciptakan tisu sebagai pengembangan lebih banyak lanjut dari kertas, yang juga pertama kali ditemukan dalam Negeri Tirai Bambu.

Jejak tisu toilet pertama kali muncul di tempat Barat pada abad ke-16. Sastrawan Prancis, Francois Rabelais, adalah orang pertama yang digunakan mengumumkan tentang tisu toilet. Itupun, katanya, bukan efektif digunakan buat cebok. 

Lantas, apabila disebut tak efektif, kenapa tisu toilet terus digunakan oleh publik Barat atau penduduk dalam iklim non-tropis?

Menurut situs Buzz Feed, penyebabnya adalah faktor cuaca. Cuaca dingin tentu hanya menghasilkan penduduk dalam sana malas bersentuhan dengan air. Entah itu urusan mandi atau cebok. Sementara publik tropis, tentu bukan keberatan kalau bersentuhan dengan air. Malah, apabila tidak ada terkena air, seseorang merasa akan kegerahan.

Atas dasar inilah, terjadi perbedaan penyelenggaraan media cebok antara dua penduduk itu. Publik Barat atau secara umum warga beriklim dingin menggunakan tisu. Sedangkan, sisanya menggunakan air. Plus pengaplikasian air untuk cebok sejalan juga dengan ajaran keagamaan, baik itu di area Islam atau Hindu.

Sebagaimana dilaporkan CNN International, kepopuleran tisu sebagai alat cebok oleh rakyat non-tropis sejalan dengan kemunculan masif pabrik tisu, terlebih usai muncul pengembangan baru, yakni tisu gulung pada 1890.

Meski begitu, selain oleh faktor iklim, ternyata ada alasan lain yang digunakan memengaruhi, yakni pola konsumsi. Orang bule yang tersebut biasa mengonsumsi makanan rendah serat menciptakan kotoran yang mana lebih banyak sedikit lalu rendah air, sehingga mereka itu membersihkannya hanya saja dengan tisu.

Sementara orang Asia, Afrika, juga sebagian Eropa kebalikannya. Mereka kerap menyantap makanan tinggi serat yang tersebut memunculkan lebih tinggi banyak kotoran juga air. Alhasil, metode air pun jadi jalan terbaik membersihkan kotoran.

Terlepas dari perbedaan kelompok cebok pakai air atau tisu, riset ilmiah telah terjadi membuktikan bahwa cebok menggunakan air lebih tinggi bersih. Kotoran yang digunakan mengandung bakteri dan juga kuman bisa jadi seluruhnya hilang.

Kendati demikian, cebok pakai tisu sulit dilepaskan oleh sebab itu sudah ada terlanjur terikat kebudayaan juga mengakar lintas generasi. Jadi, itulah alasan kenapa orang bule atau secara umum publik beriklim dingin terbiasa cebok hanya sekali pakai tisu. 

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *