APBI Soroti Dinamika lalu Tantangan Masa Depan Industri Batu Bara

Bisnis21 Dilihat

JAKARTA – Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia ( APBI ) menyoroti dinamika serta tantangan masa depan sektor batu bara dalam berada dalam masa transisi kepemimpinan.

Ketua Umum APBI 2021-2024 Pandu Patria Sjahrir menyoroti bermacam tantangan bidang pertambangan batu bara yang dimaksud berlangsung selama dekade terakhir mencakup periode tiga kali kepemimpinannya. Dia menekankan isu-isu kritis seperti kewajiban pasokan batu bara di negeri (DMO) dan juga penetapan tarif batu bara yang mana ditujukan untuk sektor kelistrikan.

“APBI mencoba hadir di menerima beraneka keluhan dan juga masukan anggota hingga mengkomunikasikan dengan pemerintah, mencari jalan terbaik agar setiap tantangan yang digunakan dihadapi dapat teratasi, sambil mengutamakan keperluan nasional lalu sosial,” ujar Pandu pada Musyawarah Anggota APBI di dalam Jakarta, Kamis (2/5/2024).

Lebih lanjut, ia menggarisbawahi pentingnya peran legislasi di mengarahkan industri, khususnya sejak disahkannya Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 tentang Mineral serta Batu Bara yang mana memindahkan beberapa jumlah wewenang dari pemerintah tempat ke pemerintah pusat. “Transisi ini tidak ada hanya saja memengaruhi perkembangan keanggotaan asosiasi tetapi juga mengakibatkan dinamika regulasi baru bagi industri,” imbuhnya.

Selama masa jabatannya, Pandu menyatakan bahwa APBI-ICMA sudah pernah menangani bermacam isu, di antaranya pemenuhan keperluan batu bara pada negeri, royalti, nilai tukar batu bara acuan, kewajiban penyelenggaraan kapal juga asuransi nasional, devisa hasil ekspor, hingga permasalahan ship to ship pengiriman di dalam Muara Berau, pengurusan AMDAL, serta masih banyak lagi.

“Peran asosiasi tidak ada semata-mata sebatas penyelesaian masalah, tetapi juga mencakup inisiatif berbagi pengetahuan juga pembentukan pedoman untuk kepentingan bersama,” jelasnya.

Di samping itu, Pandu mengungkapkan bahwa penerapan aspek environmental, social, and governance (ESG) tak lagi sanggup dipisahkan dari bisnis, terlebih pertambangan batu bara. Penyamaan visi juga misi untuk pelaksanaan tata kelola tambang yang tersebut baik kemudian berkelanjutan, juga mengedepankan aspek lingkungan lalu sosial juga terus-menerus digaungkan juga berubah jadi kewajiban yang tersebut harus dilaksanakan seluruh anggota.

“Tak kalah penting ketika ini adalah bagaimana asosiasi berperan di menyelaraskan dengan misi eksekutif Tanah Air dalam era transisi energi kemudian upaya untuk mencapai target net zero emission pada tahun 2060. Transisi energi bukanlah lagi sebuah wacana namun sudah ada dalam depan mata,” ujarnya.

Pandu yang digunakan sudah pernah menjadi pemimpin asosiasi ini hampir satu dekade sejak pertama kali terpilih pada tahun 2015, menyerukan estafet kepemimpinan terhadap Priyadi, yang digunakan ketika ini menjabat Presiden Direktur Adaro Indonesia. Pandu berharap kepengurusan APBI-ICMA ke depan dapat semakin solid di menyelesaikan isu-isu penting yang muncul kemudian hadir sebagai wadah komunikasi antar anggota. Tidak hanya sekali pengurus namun keterlibatan anggota di memberikan masukan berubah menjadi kunci utama keberhasilan sebuah asosiasi.

Artikel ini disadur dari APBI Soroti Dinamika dan Tantangan Masa Depan Industri Batu Bara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *