BI proyeksikan dunia usaha global bertambah tiga persen pada 2024

Finansial24 Dilihat

IDN Bisnis Harga komoditas meningkat didorong oleh naiknya biaya angkut oleh sebab itu ketegangan geopolitik serta ketatnya pasokan akibat faktor cuaca

Jakarta – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan perkembangan dunia usaha global pada 2024 mencapai tiga persen pada berada dalam ketidakpastian lingkungan ekonomi keuangan yang digunakan masih tinggi.

"Momentum pemulihan ekonomi global berlanjut di tempat sedang ketidakpastian pangsa keuangan yang dimaksud masih tinggi. Pertumbuhan dunia usaha global pada 2024 diprakirakan mencapai tiga persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo pada Pernyataan Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Periode Maret 2024 di tempat Jakarta, Rabu.

Perry menuturkan pertumbuhan sektor ekonomi Amerika Serikat (AS) tetap memperlihatkan kuat ditopang oleh permintaan domestik. India juga meningkat tambahan baik dari prakiraan didukung oleh penanaman modal pemerintah dan juga swasta.

Sementara itu, prospek sektor ekonomi Tiongkok masih belum kuat, meskipun sedikit tambahan tinggi dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya didorong peningkatan stimulus fiskal.

"Harga komoditas meningkat didorong oleh naiknya biaya angkut lantaran ketegangan geopolitik dan juga ketatnya pasokan akibat faktor cuaca," sebutnya.

Perry menuturkan berbagai perkembangan yang disebutkan mengakibatkan laju penurunan pemuaian global tertahan, dengan pemuaian di tempat negara maju masih dalam melawan targetnya.

Oleh karenanya, suku bunga Fed Funds Rate (FFR) diprakirakan baru turun pada semester II 2024.

Di samping itu, ketidakpastian lingkungan ekonomi keuangan global masih tinggi tercermin pada yield US Treasury yang digunakan meningkat sejalan dengan premi risiko jangka panjang kemudian kenaikan harga yang masih di tempat berhadapan dengan prakiraan pasar.

"Perkembangan ini menyokong berlanjutnya penguatan dolar Amerika Serikat secara global, lebih lanjut terbatasnya aliran masuk modal asing, lalu meningkatnya tekanan pelemahan nilai tukar di dalam negara emerging market," tuturnya.

Kondisi yang dimaksud memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif rambatan global tersebut, termasuk di tempat Indonesia.

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *