BI tekankan enam fokus pengembangan perekonomian syariah

Bisnis22 Dilihat

Kalau dagingnya sudah ada halal Insya Allah telah mengatasi sebagian besar kehalalan dari setiap komoditas makanan,

Jakarta – Bank Tanah Air (BI) menekankan enam fokus di pengembangan perekonomian syariah nasional ke depan, yakni lingkungan makanan halal, modest fashion, dunia usaha pesantren, keuangan syariah, digitalisasi ekonomi kemudian keuangan syariah (eksyar), hingga literasi lalu edukasi eksyar.

"Kami memberikan enam fokus pengembangan perekonomian syariah ke depan yang digunakan tentu sekadar tak bisa jadi dikerjakan oleh Bank Indonesia sendiri melainkan penting terus bersinergi dengan semua pemangku kepentingan," kata Deputi Pemimpin wilayah BI Juda Agung di Festival Sektor Bisnis Syariah Kawasan Timur Nusantara (KTI) 2024 yang dihadiri oleh virtual ke Jakarta, Senin.

Dalam festival dengan tema Sinergi untuk Memperkuat Ketahanan serta Kebangkitan Perekonomian Syariah Kawasan Timur Indonesi itu, Juda menuturkan di pengembangan biosfer makanan halal, akselerasi sertifikasi rumah potong hewan harus terus diwujudkan akibat rumah potong hewan berubah jadi sumber utama pangan halal.

"Kalau dagingnya telah halal Insya Allah telah mengatasi sebagian besar kehalalan dari setiap hasil makanan," ujarnya.

Sertifikasi halal juga penting terus diakselerasi sehingga pihaknya terus bekerja sejenis dengan bermacam halal center di dalam bermacam universitas guna menguatkan dukungan jaminan hasil halal.

Untuk pengembangan modest fashion, BI kemudian para pemangku kepentingan terus menggerakkan para perancang juga entrepreneur modest fashion melalui penyelenggaraan Indonesi International Modest Fashion Festival (IN2MF).

"Dalam IN2MF tahun ini kami fokus pada brand awareness yang digunakan mengusung komoditas pakaian jadi yang digunakan high end serta premium dan juga mengedepankan wastra Nusantara diantaranya dari kawasan timur Indonesia," ujarnya.

Selain itu, untuk pengembangan kegiatan ekonomi pesantren, BI dengan para pemangku kepentingan terus melakukan penguatan lalu perluasan model perusahaan lingkungan pertanian, perikanan lalu peternakan di dalam pesantren.

"Pesantren memiliki faktor pendukung yang digunakan sangat besar seperti ketersediaan lahan, SDM yang punya karakter kemudian juga khususnya kekuatan jamaah yang diperlukan kita optimalkan," ujarnya.

Selanjutnya, sebagai regulator, BI terus menyokong pembaharuan kebijakan juga instrumen pangsa keuangan sebagai alternatif skema pembiayaan juga pendanaan syariah diantaranya melakukan inovasi-inovasi model perusahaan agar pengelolaan wakaf dapat semakin produktif.

Di samping itu, upaya digitalisasi terus dilaksanakan baik untuk menggerakkan sektor halal maupun keuangan syariah.

Bersama Badan Wakaf Negara Indonesia (BWI), BI mengembangkan super apps untuk mengintegrasikan pengelolaan wakaf, yang mana bernama Satu Wakaf Indonesia.

Kemudian, BI juga fokus pada peningkatan literasi juga edukasi eksyar.

Semakin lebih tinggi literasi maka semakin besar pula penerimaan juga pengaplikasian hasil halal juga keuangan syariah.

Hal yang disebutkan harus berubah menjadi perhatian dengan dari semua pihak untuk mencapai target literasi perekonomian syariah sebesar 50 persen pada 2025.

Sementara menurut hasil survei Bank Indonesia yang dimaksud diwujudkan dalam 10 provinsi, literasi kegiatan ekonomi syariah masih 28 persen.

"Target literasi kegiatan ekonomi syariah 50 persen tahun 2025 yang digunakan dicanangkan Wakil Presiden tentu bukan dapat kita capai dengan bekerja seperti biasa, sehingga kawan-kawan di dalam Bank Indonesia, KNEKS juga juga OJK sekarang sedang mengawasi lebih besar detail bagaimana kita bisa jadi mencapai target 50 persen pada tahun depan," ujarnya.

Artikel ini disadur dari BI tekankan enam fokus pengembangan ekonomi syariah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *