BI terapkan kebijakan insentif likuiditas pacu pertumbuhan kredit

Finansial17 Dilihat

dengan adanya tambahan KLM ini peningkatan kredit akan dalam batas berhadapan dengan jadi 10-12 persen ‘the whole year’ seluruh tahun akan mencapai batas melawan 12 persen

Jakarta – Bank Negara Indonesia (BI) menerapkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk memacu peningkatan kredit atau pembiayaan sehingga menyokong perkembangan ekonomi nasional yang tersebut diperkirakan di melawan 5 persen pada 2024.

"Kami perkirakan dengan adanya tambahan KLM ini pertumbuhan kredit akan ke batas berhadapan dengan jadi akan 10 sampai 12 persen 'the whole year' seluruh tahun akan mencapai batas menghadapi 12 persen," kata Deputi Pemuka BI Juda Agung pada Taklimat Industri Media di dalam Kantor Pusat BI Jakarta, Senin.

Penerapan KLM direalisasikan melalui pengurangan giro bank pada Bank Indonesia di rangka pemenuhan Giro Wajib Minimum (GWM) di rupiah yang wajib dipenuhi secara rata-rata. Besaran total insentif paling besar 4 persen meningkat dari sebelumnya paling besar 2,8 persen.

Pemberian insentif diharapkan dapat meningkatkan fungsi intermediasi perbankan teristimewa pada penyaluran kredit atau pembiayaan sejalan dengan upaya menggenjot perkembangan ekonomi.

Juda menuturkan KLM diberikan untuk bank penyalur kredit atau pembiayaan sektor tertentu, inklusif, usaha ultra mikro, berwawasan lingkungan, dan/atau pembiayaan lainnya yang dimaksud ditetapkan Bank Indonesia.

Insentif dengan pengurangan GWM maksimal 4 persen yang disebutkan diberikan jikalau bank mampu meningkatkan penyaluran kreditnya untuk sektor-sektor tertentu antara lain, yakni pengembangan lebih lanjut mineral kemudian batu bara (minerba), non-minerba, perumahan, pariwisata, Rasio Biaya Inklusif Makroprudensial (RPIM), ultra mikro (UMi), kemudian keuangan hijau.

Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial merupakan bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesi untuk menyimpan kesempatan pemulihan ekonomi nasional.

Sebelumnya, pada April 2024, kredit berkembang membesar sebesar 13,09 persen secara year on year (yoy) didorong oleh perkembangan kredit ke banyak sektor, seperti sektor industri, jasa dunia usaha, kemudian perdagangan, sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Tingginya permintaan kredit dipengaruhi oleh sisi penawaran, sejalan dengan terjaganya appetite perbankan yang dimaksud didukung oleh tingginya permodalan, berlanjutnya strategi realokasi aset ke kredit oleh perbankan, dan juga diterapkannya KLM yang digunakan melindungi kecukupan likuiditas perbankan.

Pertumbuhan kredit yang dimaksud juga ditopang oleh peningkatan DPK yang dimaksud terus meningkat, yang digunakan mencapai 8,21 persen (yoy) pada April 2024.

Dari sisi permintaan, perkembangan kredit didukung oleh kinerja korporasi lalu rumah tangga yang dimaksud kekal terjaga baik.

Dengan perkembangan tersebut, peningkatan kredit 2024 akan terus meningkat menuju batas melawan kisaran prakiraan 10-12 persen.

BI akan terus menguatkan efektivitas implementasi kebijakan makroprudensial akomodatif serta mempererat sinergi dengan pemerintah, Komite Kelancaran Sistem Keuangan (KSSK), perbankan, dan juga pelaku bisnis untuk menggalang peningkatan kredit atau pembiayaan bagi peningkatan sektor ekonomi secara berkelanjutan.

 

Artikel ini disadur dari BI terapkan kebijakan insentif likuiditas pacu pertumbuhan kredit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *