Dari Kesal dan juga Ditolak 100 Investor, Bisnis Wanita Ini adalah Cuan Simbol Rupiah 56 T

Entrepreneur30 Dilihat

IDN Bisnis

Jakarta – Ini adalah kisah pendiri Canva, Melanie Perkins. Dahulu pada waktu mendirikan Canva, Melanie ditolak oleh 100 penanam modal oleh sebab itu dianggap program bukan berguna.

Namun, faktanya anggapan itu salah. Kini, Canva malah sukses jadi perangkat lunak desain terfavorit. 

Bagaimana ceritanya?

Bermula dari Kekesalan

Melanie Perkins lahir di tempat Perth, 13 Mei 1987. Sejak kecil ia sangat hobi merancang serta menggambar berbagai poster.

Atas dasar inilah, selama menempuh institusi belajar dari jenjang terendah hingga lembaga pendidikan tinggi, beliau menjadikan menggambar sebagai pelajaran utama. Selama menjalani profesi yang dimaksud beliau identik sekali tak merasa kesulitan pada waktu menggunakan aplikasi mobile desain di area komputer.

Sekalipun ada kesulitan, itu dijadikannya sebagai tantangan kemudian penyemangat. Passion-lah yang tersebut membuatnya bisa saja bertahan menjalani profesi ini.

Ini tentu berbeda dengan orang awam yang digunakan ingin menumbuhkan passion juga belajar desain grafis. Kadang, semangat tingginya segera patah ketika mengetahui betapa sulit menggambar pada aplikasi.

Dan, hal inilah yang tersebut sejenis sekali tidaklah dilihat oleh Melanie. Dia memandang aplikasi mobile desain sangatlah mudah, kemudian seharusnya orang lain bisa jadi melakukannya.

Namun, pandangan Melanie yang dimaksud berubah pada 2006. Ketika itu beliau yang mana berusia 19 tahun bekerja sambilan sebagai guru les desain terhadap anak-anak sekolah. Saat mengajar inilah ia mulai sadar ada orang tak mampu memakai perangkat lunak desain oleh sebab itu ribet.

Faktanya, hampir tiada ada satupun muridnya yang mana sanggup menggunakan Photoshop, Coreldraw, Adobe Stock, serta sebagainya. Sekalipun ada yang bisa jadi itupun dilaksanakan berkat pengajaran serta latihan berulang kali. Sangat melelahkan.

Terlebih, pada waktu menciptakan satu poster, misalkan, prosesnya sangat rumit juga panjang. Seseorang harus merancang lalu menggambarnya. Lalu dilanjut mengkonversi ke ukuran yang digunakan diinginkan, sebelum akhirnya dicetak.

“Dari sinilah aku harus sanggup menyebabkan seluruh prosesnya menjadi simpel,” katanya sembari menghela nafas, diambil Forbes.

Beranjak dari keresahan inilah Melanie hendak merancang suatu perangkat lunak desain grafis yang ringkas dan juga mudah dipahami. Beruntung, ada kawan Melanie, Cliff Obrecht, yang digunakan jadi teman diskusi tentang ini.

Singkat cerita, hasil diskusi itu kemudian berujung pada tindakan mendirikan aplikasi mobile desain buku tahunan siswa, Fusion Books, pada 2007. Lewat perangkat lunak ini para siswa bukan perlu memanggil vendor untuk merancang buku tahunannya.

Hanya lewat Fusion Books siswa bisa jadi mengatur sendiri model pada buku tahunannya. Apalagi sistem program yang disebutkan telah disediakan berbagai template rancangan, lengkap dengan beragam emoji, gambar kemudian animasi. Jadi siswa belaka perlu mengklik-klik sekadar dalam komputer.

Tak diduga, Fusion Books yang awalnya cuma ada dalam satu sekolah kemudian ‘meledak’ dipakai lebih tinggi dari 200 sekolah mitra. Meski begitu, pencapaian ini tak menghasilkan Melanie puas.

Dia ingin menimbulkan perangkat lunak desain yang multifungsi. Tak hanya saja untuk buku tahunan, tetapi juga kartu nama, desain poster, presentasi, kemudian sebagainya.

Sempat Ditolak 

Sayang, upaya mewujudkan aplikasi mobile itu tak mudah. Kepada Entrepreneur, Melanie menjelaskan tantangan terbesarnya adalah persoalan dana. Dia sulit mendapat dana dari investor. Beberapa kali bolak-balik hingga menemui 100-an investor, gagasan Melanie kemudian Obrecht tak bisa jadi terwujud.

Para penanam modal memandang perusahaan desain grafis sudah ada mentok. Bisa dipaksakan, maka dana penanam modal yang mana diberikan terhadap Melanie akan menguap begitu saja.

Hingga akhirnya, secercah harapan pun tiba pada tahun 2011. Di Perth ada kompetisi startup yang mana mendatangkan penanam modal Bill Tai. Melanie bergegas mendaftar lalu tak disangka malah menang. Dari di tempat ini beliau berkesempatan pergi ke Silicon Valley.

Singkat cerita, selepas dari pusat teknologi Amerika Serikat itulah ia mulai mendapat pembangunan ekonomi senilai US$ 3 jt pada 2012. Berkat dana itulah, Melanie-Obrecht leluasa berkarya. Beruntung, pribadi eks-pegawai Google dengan syarat Sydney, Cameron Adams, bersedia membantu keduanya.

Adam yang dimaksud kelak menjadi Co-Founder disebutkan membantu di tempat sektor pengembangan teknologi. Dari hasil diskusi ketiganya itulah, tepat pada 1 Januari 2013 lahir program desain grafis bernama Canva.

Dalam laman resmi perusahaan, Canva berupaya menyebabkan semua orang bisa saja merancang grafis tanpa perlu keahlian desain grafis mumpuni. Dalam sekejap, program ini sukses dipakai 50.000 pengguna. Lalu setahun kemudian telah dipakai 600.000 pengguna dengan 3,5 jt desain.

Kini, Melanie Perkins tinggal memetik buah dari jerih payahnya itu. Berkat Canva, Forbes (2024) mencatatkan ia mempunyai harta US$ 3,6 miliar atau Mata Uang Rupiah 56 triliun. Sementara Canva sendiri menurut The Social Shepherd sudah ada mendulang keuntungan hingga US$ 1,7 miliar atau Simbol Rupiah 26 T.

Artikel Selanjutnya Belajar dari Pria Mata Uang Rupiah 150 T, Jadi Kaya lantaran Lakukan Hal ini

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *