Ekonom Hal ini Ungkap Efek Resesi Negeri Matahari Terbit juga Inggris ke Perekonomian RI

Bisnis31 Dilihat

IDN Bisnis JakartaDirektur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menjelaskan dampak kondisi Jepun dan juga Inggris yang tersebut berada dalam memasuki masa resesi atau krisis terhadap Indonesia. Menurut dia, dampak dari resesi di dalam Negeri Sakura itu lebih besar terasa berbeda dengan Inggris. 

“Kalo dalam antara Jepun kemudian Inggris, jelas Negeri Matahari Terbit itu lebih lanjut besar dampaknya bagi kita, sebab Negeri Matahari Terbit itu salah satu mitra dagang terbesar selain Tiongkok, Amerika, juga ASEAN,” ujar Faisal untuk Tempo, dikutipkan Senin, 19 Februari 2024. 

Dia menjelaskan, perlambatan dunia usaha atau kontraksi perekonomian yang terjadi di area Jepun ini berpengaruh pada menurunkan kinerja ekspor Indonesia, khususnya ke Jepang.

“Terlebih kalau kita meninjau struktur ekspor kita ke Negeri Matahari Terbit ini banyak komoditas, termasuk di area dalamnya energi, seperti batubara dan juga gas,” tuturnya.

Selain itu, resesi yang tersebut terjadi ini juga berkaitan dengan value chain atau rantai nilai untuk bidang manufaktur, seperti otomotif. “Jadi perlambatan perekonomian di area Negeri Matahari Terbit juga akan menurunkan ekspor manufaktur kita,” kata dia.

Faisal menuturkan, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Januari 2024 lalu, perkembangan ekspor Indonesia ke Jepun tercatat kontraksi atau turun 9 persen. Sementara secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi salah satu sektor yang turun paling di yaitu -22,7 persen. “Jadi memang benar ada dampaknya ke perdagangan kita, teristimewa ekspor kita ke Jepang.”

Sedangkan Inggris, kata Faisal, bukanlah termasuk mitra dagang paling besar sehingga pengaruhnya relatif kecil bagi perekonomian RI. “Walaupun Uni Eropa itu salah satu yang tersebut besar, tapi yang mana paling besar (mitra dagang RI) itu Jerman, Belanda, kemudian Italia. Jadi kalau buat Indonesia terjadi resesi di tempat Inggris itu relatif kecil kalau ke Indonesia,” ucapnya.

Sebagai informasi, ekspor RI pada Januari 2024 mencapai US$ 20,52 miliar. Angka ini turun 8,34 persen jika dibandingkan Desember 2023. Ekspor nonmigas Januari 2024 mencapai US$ 19,13 miliar, turun 8,54 persen jika dibandingkan Desember 2023, kemudian turun 8,20 persen apabila jika dibandingkan dengan ekspor nonmigas Januari 2023.

Dari 10 komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Januari 2024, komoditas dengan penurunan terbesar melebihi Desember 2023 adalah substansi bakar mineral sebesar US$ 805,9 jt (20,81 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada lemak kemudian minyak hewan/nabati sebesar US$ 208,0 jt (10,36 persen).

Diketahui, Layanan domestik bruto (PDB) Negeri Sakura turun 0,4 persen (yoy) pada periode Oktober-Desember setelahnya penurunan 3,3 persen pada kuartal sebelumnya. Hasil ini mengacaukan perkiraan pangsa yang tersebut memperkirakan kenaikan sebesar 1,4 persen. Kontraksi dua kuartal berturut-turut biasanya dianggap sebagai definisi resesi teknis.

Sementara Inggris juga menyusul masuk ke jurang resesi setelahnya peningkatan ekonominya mencatatkan pertumbuhan dunia usaha negatif selama dua kuartal berturut-turut. Produk Domestik Bruto Inggris kontraksi 0,3 persen pada kuartal IV-2023. Sementara, kuartal III-2023 perekonomian Inggris juga turun 0,1 persen.

DEFARA DHANYA | REUTERS 

Pilihan Editor: Subsidi BBM Dialihkan untuk Makan Siang Gratis, Gibran: Saya Belum Dilantik Sudah Pada Ribut

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *