Ethiopia segera larang kendaraan non listrik sepenuhnya

Bisnis9 Dilihat

IDN Bisnis DKI Jakarta (ANTARA) – Ethiopia memutuskan untuk segera menghentikan pemakaian substansi bakar fosil sepenuhnya, setelahnya menurut Menteri Transportasi Ethiopia, Alemu Sime, negaranya menghabiskan 6 miliar Euro (Rp102 Triliun) tahun lalu, semata-mata untuk mengimpor bensin dan juga solar.

Hal ini tentu merupakan langkah yang dimaksud besar, mengingat hampir seluruh negara pada dunia melakukan peralihan energi yang disebutkan secara perlahan, pada 10 hingga 20 tahun. Rencana Ethiopia yang dimaksud sejenis dengan Norwegia yang tersebut juga berencana untuk meninggalkan kendaraan substansi bakar fosil (Internal Combustion Engine/ICE).

Baca juga: Ikhtisar kebijakan pemerintah dorong pemakaian kendaraan listrik 2023

Laman ArenaEV, Hari Sabtu (3/2) melaporkan, bahwa selain tidak ada berkelanjutan secara finansial, tingkat polusi pada berbagai kota di area Ethiopia juga tidak ada terkendali. Satu-satunya jalan meninggalkan dari permasalahan ini, menurut Menteri Sime, adalah pelarangan segera terhadap kendaraan non-listrik yang dimaksud masuk ke negaranya, baik kendaraan lama maupun yang mana baru.

Kementerian Transportasi bergerak untuk menindaklanjuti rencana prioritas tinggi untuk merancang infrastruktur pengisian daya pada seluruh negeri, menyusul laporan yang dimaksud disampaikan oleh Sime untuk Dewan Perwakilan Rakyat Ethiopia.

Larangan yang tersebut direncanakan akan ditegakkan secara ketat, termasuk pemilik kendaraan yang dimaksud diharuskan menjalani tes asap (uji emisi) yang juga ketat. Setiap kendaraan yang gagal di uji yang disebutkan tidak ada lagi memenuhi persyaratan untuk diservis dan juga harus disingkirkan dari jalan raya.

Baca juga: UEA uraikan kebijakan kendaraan listrik guna kurangi konsumsi energi

Diketahui ada sekitar dua jt kendaraan di tempat Ethiopia yang sebagian besar dalam antaranya berusia lebih banyak dari 20 tahun. Kendaraan yang digunakan tambahan tua telah dilakukan dikenai pajak tinggi, sehingga memaksa para importir untuk menghadirkan mobil-mobil yang lebih lanjut baru ke negara tersebut.

Di sisi lain, importir mobil dengan emisi rendah akan dikenakan pajak yang digunakan lebih besar rendah juga manufaktur mobil listrik lokal didorong dengan keringanan pajak serta insentif yang digunakan besar.

Baca juga: Kemenperin yakini penanaman modal EV prospektif didukung kebijakan lalu pasar

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *