Indef: Cawapres perlu pahami tujuan akhir pengerjaan berkelanjutan

Bisnis21 Dilihat

IDN Bisnis Ibukota – Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development di tempat Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov menyatakan para kandidat calon delegasi presiden (cawapres) harus memiliki komitmen serta memahami tujuan akhir konstruksi berkelanjutan.

"Yang perlu kita perhatikan dari komitmen para kandidat itu adalah bagaimana mereka memandang tujuan akhir dari pengerjaan sektor ekonomi berkelanjutan. Jadi kalau kita bicara pembangunan yang sifatnya fisik, itu sebetulnya tidak tujuan akhir, itu adalah tujuan antara," kata Abra pada diskusi masyarakat di area Jakarta, Kamis.

Dalam diskusi bertajuk Mengurai Gagasan Cawapres mengenai Isu Keberlanjutan, Abra menuturkan tujuan akhir pembangunan perekonomian berkelanjutan adalah tentang kesejahteraan publik tidak sekadar konstruksi fisik.

"Kita juga perlu mengamati bagaimana kesadaran para kandidat ini bahwa tujuan akhir dari pengerjaan berkelanjutan itu bukanlah belaka sekadar penyelenggaraan yang sifatnya tangible yang sanggup terlihat, tetapi juga yang digunakan paling esensi adalah seluruh penyelenggaraan fisik itu berujung pada pengerjaan kesejahteraan masyarakatnya," ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga perlu mengawasi sejauh mana pemahaman kandidat cawapres terhadap rencana tujuan pengerjaan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) yang tersebut sifatnya sudah ada menjadi komitmen bersatu di tempat level global.

Tujuan pengerjaan berkelanjutan menjadi konsensus negara-negara di tempat seluruh dunia untuk sanggup melakukan pengerjaan yang digunakan berkelanjutan dengan parameter yang mana serupa antar negara sehingga pencapaian SDGs satu negara dengan negara lain sanggup diukur

Menurut dia, komitmen kemudian paradigma pembangunan berkelanjutan yang mana diusung masing-masing kandidat seharusnya tidak ada bersifat parsial, melainkan menyeluruh atau menyasar ke seluruh dimensi, pada arti ingin menggenjot sektor ekonomi tetapi tidak ada mengorbankan aspek lingkungan, sosial dan juga hukum.

"Paradigma perkembangan berkelanjutan ini tentunya menjadi nafas yang disampaikan masing-masing kandidat," ujarnya.

Ia mengungkapkan ada lima komponen yang tersebut melingkupi perkembangan berkelanjutan, yang tersebut harus menjadi landasan dari jadwal pengerjaan berkelanjutan yang mana diusung oleh masing-masing kandidat, yakni aspek people, prosperity, planet, peace lalu partnership.

Aspek people berorientasi pada manusia dengan menjaga martabat serta kesetaraan. Aspek prosperity memverifikasi kesejahteraan tanpa menyebabkan kesenjangan dengan tetap memperlihatkan menjaga hidup yang tersebut harmonis dengan alam.

Aspek planet tentang melindungi bumi, sumber daya alam, keanekaragaman hayati juga keberlangsungan bumi bagi generasi berikutnya.

Aspek peace tentang menjaga perdamaian, penduduk yang dimaksud inklusif kemudian menghurangi kekerasan kemudian diskriminasi. Aspek partnership tentang mencapai tujuan bersatu melalui kerja sejenis global yang mana solid, setara lalu saling menguntungkan.

Sementara untuk peringkat SDGs pada level global pada 2023, Indonesia berada pada peringkat ke-75 dari 166 negara dengan skor 70,2 persen.

Dibandingkan negara-negara lain di area kawasan ASEAN, Indonesia berada di dalam bawah Thailand dengan peringkat 43 juga skor 74,74, Vietnam dalam peringkat 55 dengan skor 73,32, Singapura pada peringkat 64 dengan skor 71,78. Namun, Indonesia berada di dalam melawan Negara Malaysia yang menempati peringkat 78 dengan skor 69,85.

"Kalau kita lihat progresnya secara umum Indonesia mengarah pada hasil yang mana on the track," ujarnya.

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *