INDEF: Insentif pajak perlu untuk gaet pelaku industri turunkan stunting

Finansial11 Dilihat

IDN Bisnis Kalau pemerintah yang mengimplementasikan sendiri, sebagian anggarannya habis digunakan untuk proses birokrasi

Jakarta – Ekonom Senior INDEF Aviliani menyatakan pemerintah perlu memberikan insentif pajak terhadap para pelaku perusahaan guna meningkatkan partisipasi dia pada mengatasi stunting (tengkes) lalu menurunkan beban biaya kemampuan fisik akibat penyakit bawaan.

“Kalau pemerintah yang digunakan mengimplementasikan sendiri, sebagian anggarannya habis digunakan untuk proses birokrasi. Jadi, saya lebih banyak setuju pemberian insentif potongan pajak sehingga pemerintah tidaklah perlu mengeluarkan uang, bagaimanapun juga tentunya menghurangi penerimaan pajak” ujar Aviliani pada waktu dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Ia menuturkan bahwa insentif pajak yang dimaksud dapat diberikan untuk perusahaan-perusahaan yang mana menjalankan acara pemberdayaan rakyat terkait pengentasan stunting lalu pencegahan penyakit bawaan.

Menurutnya, skema ini dapat meningkatkan kemampuan fisik warga dengan lebih lanjut efektif lantaran biasanya upaya pengawasan yang diadakan oleh suatu perusahaan terhadap program-program mereka itu lebih lanjut menyeluruh.

“Karena entrepreneur tidak ada mau kehilangan kalau merek sudah ada membiayai pelaksanaan suatu program, maka pasti diawasi dengan baik,” ucap Aviliani.

Selain dengan melibatkan pelaku bisnis, ia mengungkapkan bahwa upaya penurunan prevalensi stunting dan pencegahan penyakit bawaan dapat ditingkatkan dengan pengalihan anggaran.

Misalnya, anggaran sekolah yang dimaksud cukup besar, yaitu mencapai 20 persen pada APBN 2024, dapat dialihkan sebagian untuk penanganan stunting dengan memenuhi permintaan nutrisi ibu hamil dan juga anak-anak.

Walaupun keduanya merupakan aspek yang dimaksud penting bagi perkembangan anak, Aviliani menyatakan bahwa sektor kebugaran lebih tinggi penting daripada sektor pendidikan.

Menurutnya, anak yang mana mengalami stunting miliki kemampuan berpikir yang digunakan lebih besar rendah dibandingkan anak normal sehingga pemanfaatan anggaran yang digunakan besar untuk menyediakan subsidi lembaga pendidikan pun tiada efektif mengatasi akar permasalahan yang tersebut menghambat pertumbuhan anak.

“Mungkin anggaran sekolah perlu ditinjau kembali apakah efektif atau tiada sebab menurut saya, anak sanggup mendapatkan beasiswa kalau beliau pintar. Kalau beliau bukan pintar kemudian tak sanggup memahami dengan baik, padahal diberikan lembaga pendidikan gratis, masih bukan akan meningkatkan kualitasnya,” katanya.

Aviliani juga menyoroti diperlukannya pengalihan anggaran untuk upaya pencegahan penyakit agar dapat menurunkan beban biaya yang digunakan harus dikeluarkan pemerintah untuk BPJS Kesehatan.

“Pak (Menteri Kesehatan) Budi Sadikin menyampaikan bahwa sebenarnya ia juga lebih lanjut setuju dengan upaya preventif. Apalagi Kementerian Bidang Kesehatan berencana menggunakan tes DNA untuk mengetahui penyakit apa yang berpotensi diderita oleh seseorang,” ujarnya.

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *