Integrasi bendungan jadi strategi jaga ketahanan air di dalam Lampung

Bisnis18 Dilihat

Bandarlampung – Ketersediaan air bagi keberadaan masyarakat merupakan hal mutlak yang digunakan harus dipenuhi untuk merespons dampak pembaharuan iklim, guna menghindari krisis pangan dan juga air.

 
Oleh akibat itu otoritas secara simultan terus menyelesaikan penyelenggaraan bendungan ke berubah-ubah provinsi untuk memperkuat ketahanan air juga ketahanan pangan.
Penyelesaian pengerjaan bendungan secara nasional sejak 2015-2025 ditargetkan sebanyak-banyaknya 61 unit yang mana tersebar dalam beraneka daerah.
Dalam mewujudkan ketahanan air, Provinsi Lampung ikut menyokong penyediaan air dengan beberapa bendungan yang mana saling terintegrasi mengairi beragam embung dan tempat irigasi.
 
Pembangunan jaringan pengairan terintegrasi melalui bendungan multifungsi tersebut, selain bermanfaat sebagai sumber air baku, juga digunakan untuk sumber irigasi, pembangkit listrik, pengendali banjir, konservasi air, hingga pariwisata.
 
Bila diurutkan dari hulu hingga hilir, jaringan infrastruktur air terintegrasi dalam Provinsi Lampung salah satunya terwujud dari terbentuknya Sekampung Sistem, yang mana dimulai dari Bendungan Batutegi sebagai tulang punggung pengairan di wilayah tersebut, teristimewa ketika fenomena iklim El Nino berlangsung pada 2023.

Bendungan ini berjarak 90 kilometer dari Daerah Perkotaan Bandarlampung, tepatnya di Kecamatan Air Naningan Kota Tanggamus.

Bendungan yang mana dibangun pada 1995 itu miliki tipe timbunan batu dengan inti tanah kedap air, membesar 122 meter, elevasi puncak tubuh bendungan 283 meter, panjang puncak tubuh bendungan 701 meter, dengan ukuran mencapai 655 jt meter kubik.
 
Bendungan ini berfungsi sebagai penyedia air baku sebanyak 2.250 liter per detik, pembangkit listrik 2 x 14 megawatt, lalu yang tersebut terpenting sebagai penyedia irigasi pertanian seluas 66.537 hektare.
Bendungan Way Sekampung yang dimaksud ada pada Daerah Pringsewu sebagai bagian dari Sekampung Sistem ke Lampung. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Integrasi itu berlanjut ke Bendungan Way Sekampung yang tersebut diresmikan pada 2021, dengan luas genangan 800 hektare. Daya tampung air bendungan ini dapat mencapai 68 jt meter kubik.

Adapun pemanfaatannya untuk penyediaan air irigasi seluas 72.707 hektare dengan rincian 55.373 hektare untuk intensifikasi Sekampung Sistem dan juga 17.334 hektare untuk peningkatan kemungkinan Daerah Irigasi Rumbia.
 

Tak cuma itu, bendungan modern itu pun bisa jadi dimanfaatkan untuk penyediaan air baku bagi Daerah Perkotaan Bandarlampung, Daerah Perkotaan Metro, serta Kota Lampung Selatan dengan ukuran mencapai 1.482 liter per detik juga tenaga listrik 5,4 megawatt.

Bendungan yang dimaksud juga bisa jadi digunakan untuk mereduksi banjir 3.546 meter kubik per detik juga berubah menjadi objek wisata ke Kota Pringsewu.
 

Aliran air Way Sekampung itu makin luas untuk menyimpan ketahanan air Lampung dengan adanya Bendung Agroguruh yang digunakan merupakan cikal akan datang terbentuknya integrasi aliran air Sekampung Sistem sejak zaman Belanda, yang digunakan sekarang menyediakan air baku bagi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Daerah Perkotaan Bandarlampung sejumlah 750 liter per detik kemudian bagi pengairan irigasi pertanian seluas 43.588 hektare.
 
Dari Bendung Agroguruh penyediaan air makin meluas ke beberapa sub area irigasi yaitu menuju Daerah Irigasi Bekri, Daerah Irigasi Punggur Utara, Daerah Irigasi Rumbia Barat, Daerah Irigasi Sekampung Bunut, Daerah Irigasi Sekampung Batanghari, Daerah Irigasi Raman Utara, kemudian Daerah Irigasi Batanghari Utara.
Dengan begitu, ketika ini, aliran air dari Way Sekampung melalui Sekampung Sistem ini merambat ke Pringsewu, Pesawaran, Metro,  Lampung Selatan, juga Lampung Tengah.
Kepala Unit Pengelola Bendungan I BBWSS Mesuji Sekampung Bambang Irwantoro mengutarakan bahwa penyediaan bagi air baku, energi listrik, juga yang digunakan utama bagi permintaan irigasi pertanian bergantung terhadap integrasi infrastruktur air yang tersebut ketika ini masih terawat.
 
"Penyediaan air ini yang tersebut dari hulu disuplai dari Bendungan Batutegi ke Bendungan Way Sekampung dan juga di hilirnya ada Bendung Agroguruh, kemudian kalau telah beroperasi ke Bendungan Margatiga dalam Daerah Lampung Timur maka membentuk Jaringan Sekampung Sistem," ujar Bambang Irwantoro.

Integrasi yang disebutkan sangat penting, khususnya untuk ketahanan pangan oleh sebab itu Lampung sebagai tempat lumbung padi, ada sekitar 55 ribu hektare sawah yang mana dialiri dari jaringan terpadu itu.
 

Bahkan bila Bendungan Margatiga sebagai waduk keempat pada Sekampung Sistem beroperasi akan menambah luas aliran sistem irigasi seluas 10.950 hektare di dalam wilayah Kota Lampung Timur sehingga total luasan irigasi yang mana diairi melalui Sekampung Sistem mencapai 83.657 hektare.
 
Di sedang ancaman krisis pangan global lalu bermacam upaya mengupayakan peningkatan produksi, semua ini tentu membutuhkan sumber daya air yang dimaksud memadai.

Pengolahan sumber daya air bermetamorfosis menjadi hal vital lantaran berubah jadi salah satu aspek utama produksi pangan.

Dari kajian ilmiah menyebutkan bahwa air memberikan kontribusi 18 persen keberhasilan langkah-langkah produksi padi.
 

Provinsi Lampung sebagai wilayah lumbung padi nasional sejauh ini telah lama menunjukkan ketahanan pengelolaan sumber daya air sebagai solusi peningkatan produksi dengan memperluas area irigasi dari adanya bendungan kemudian sistem pengairan terintegrasi melalui Sekampung Sistem.
 
Selain menjaga ketahanan air melalui pemanfaatan tangkapan air dengan pengerjaan sistem infrastruktur air terintegrasi, eksekutif Provinsi Lampung pun melakukan aksi pada hulu dengan meningkatkan indeks tutupan lahan dengan melakukan rehabilitasi hutan melalui reboisasi ke di ataupun ke area luas hutan, agar sumber air kekal terjaga sebelum mengalir ke berubah-ubah infrastruktur air.
Upaya rehabilitasi hutan itu dilakukan bekerja sebanding dengan 91.114 petani di pada atau sekitar hutan yang tersebut mengusahakan hasil hutan tidak kayu melalui skema perhutanan sosial.
Berdasarkan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPHJP) Kesatuan Pengelolaan Hutan, Provinsi Lampung dengan luas wilayah  3.537.600 hektare miliki area tutupan lahan hutan 99.876,43 hektare.
 
Luas tutupan lahan berhutan itu berada di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dengan enam jenis hutan yakni hutan primer dengan total luas 8.619,33 hektare, hutan sekunder 76.880,10 hektare, hutan rawa 1.000 hektare, hutan mangrove primer 126 hektare, hutan bakau sekunder 105 hektare, juga hutan tanam seluas 13.146 hektare.
 
Sistem irigasi terintegrasi itu menjadikan  sumber air dari hulu, yaitu tempat hutan lindung, terjaga.

Alhasil, keinginan air untuk penduduk, irigasi pertanian, industri, hingga pariwisata dalam Provinsi Lampung sanggup tercukupi.

Editor: Achmad Zaenal M
 

Artikel ini disadur dari Integrasi bendungan jadi strategi jaga ketahanan air di Lampung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *