IPOT imbau pemodal perhatikan data Produk Domestik Bruto Amerika Serikat pekan ini

Bursa95 Dilihat

IDN Bisnis Kalau bilangan bulat (US GDP) dalam bawah ekspektasi bagus. Artinya, penurunan suku bunga bisa jadi jadi tambahan cepat untuk menopang ekonomi

Jakarta – Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT) Angga Septianus mengimbau para pelaku lingkungan ekonomi untuk memperhatikan sentimen dari US GDP Growth Rate atau data pertumbuhan kegiatan ekonomi Amerika Serikat (AS) kuartal IV-2023 lalu sepanjang tahun 2023 yang dimaksud akan rilis pada Kamis (28/03) pekan ini.

“Kalau hitungan (US GDP) di tempat bawah ekspektasi bagus. Artinya, penurunan suku bunga bisa saja jadi lebih besar cepat untuk menopang ekonomi,” ujar Angga pada Jakarta, Senin.

Lanjutnya, sentimen berikutnya pada pekan ini yaitu Core Personal Consumption Expenditure (PCE) Price Index dari AS, yang dimaksud mana data utama ini dipakai bank sentral Negeri Paman Sam The Fed untuk mengukur inflasi.

“Kalau naik dibandingkan periode sebelumnya (PCE Price Index) maka bisa saja dikatakan gawat,” ujar Angga.

Kemudian, sentimen lain yang mana perlu diperhatikan pada pekan ini, yaitu personal income dan juga personal spending yang tersebut akan menggambarkan kondisi perekonomian AS.

“Jika income naik dan juga spending naik ini serupa belaka belum downturn. Namun jika income turun juga spending turun, ini artınya sebentar lagi downturn dan juga suku bunga turun,” ujar Angga.

Pada pekan sebelumnya, Angga menjelaskan sebagian sentimen yang tersebut mempengaruhi pergerakan Angka Harga Saham Gabungan (IHSG), yaitu suku bunga acuan Amerika Serikat yang bertahan pada level 5,25- 5,50 persen kemudian suku bunga Bank Indonesia (BI) yang tersebut bertahan pada level 6,00 persen.

Selain itu, juga ada sentimen dari bank sentral Jepun atau Bank of Japan (BoJ) yang meningkatkan suku bunga dari minus 0,1 ke level 0- 0,1 persen sebab inflasi.

"Sayangnya market tidak ada respons, Yen turun. Harusnya kalau suku bunga naik mąką demand currency naik lalu ada capital inflow dan juga bond market kuat. Nyatanya di dalam Jepun risk free rate (0,1 persen) belum pada melawan inflasi," tegasnya dalam Jakarta.

Kemudian, sentimen lainnya pada pekan lalu yaitu terkait biaya minyak yang digunakan kembali meningkat setelahnya beberapa serangan drone negara Ukraina terhadap prasarana energi Rusia.

“Ekspor Irak lalu Saudi Arabia turun dan juga ekonomi China mulai membaik dan juga ada tanda-tanda perbaikan demand,” ujar Angga.

 

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *