Kemenko: Kepercayaan penanam modal terhadap kegiatan ekonomi RI cukup baik

Finansial15 Dilihat

Berbagai indikator peningkatan maupun penanaman modal yang menunjukkan confident warga atau confident pemodal terhadap kegiatan ekonomi kita ini juga masih cukup bagus

Jakarta – Deputi Sektor Kesepahaman Sektor Bisnis Makro kemudian Keuangan Kementerian Koordinator Perekonomian Ferry Irawan menyatakan kepercayaan penanam modal terhadap prospek dunia usaha Negara Indonesia masih cukup baik kendati berjalan ketegangan geopolitik pada Timur Tengah.

"Berbagai indikator pertumbuhan maupun pembangunan ekonomi yang menunjukkan confident masyarakat atau confident pemodal terhadap perekonomian kita ini juga masih cukup bagus. Sampai dengan pada waktu April ini, kita secara postur APBN (anggaran pendapatan belanja negara), inflasi, kemudian juga peningkatan ekonomi maupun penanaman modal itu masih cukup bagus," ungkapnya pada acara Diskusi Merdeka Barat 9 secara virtual dengan topik "Menakar Pengaruh Konflik Timur Tengah bagi Indonesia" di Jakarta, Senin.

APBN pada April 2024 mengalami surplus Rp75,7 triliun dengan sumbangan terhadap produk-produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,33 persen.

Kemudian, naiknya harga 0,25 persen dengan peningkatan Skala Harga Customer dari 106,13 pada Maret 2024 berubah menjadi 106,4 pada April 2024, dan juga realisasi pembangunan ekonomi pada kuartal I 2024 sebesar Rp401,5 triliun.

Untuk menyimpan ketahanan kegiatan ekonomi Indonesia, ada beberapa kebijakan yang digunakan dikeluarkan pemerintah guna menjauhi guncangan (shock) ekonomi.

Mulai dari pemberian subsidi energi menggunakan APBN mengingat tarif minyak naik, bantuan sosial (bansos) reguler khususnya terhadap anggota masyarakat yang mana masuk kategori Desil 1 hingga Desil 4, hingga bantuan pangan.

Dalam konteks menjaga nilai tukar rupiah, pemerintah melakukan koordinasi dengan Bank Indonesi pada rangka menguatkan kebijakan fiskal kemudian moneter.

Pertama ialah adanya local currency settlement (LCS) sebagai salah satu upaya memitigasi fluktuasi nilai tukar melalui kerja mirip dengan negara-negara mitra dagang untuk memanfaatkan mata uang lokal masing-masing negara pada melakukan kegiatan dagang.

"Jadi (LCS) dengan Thailand, dengan Malaysia, dengan Jepang, dengan Tiongkok, dengan Singapura, dengan Korea Selatan, ini kita lakukan juga. Sehingga, pada ketika terbentuk dinamika nilai tukar, paling tiada itu termitigasi lantaran kita memanfaatkan mata uang lokal dari per individu mitra dagang kita untuk dapat melakukan transaksi. Ini adalah kita harapan mampu tadi meningkatkan ketahanan (dan efisiensi) dunia usaha kita," ujar Ferry.

Mengacu konteks ketahanan sektor eksternal, pemerintah mengeluarkan kebijakan Devisa Hasil Ekspor dari Barang Ekspor Informan Daya Alam (DHE SDA) dengan ketentuan 30 persen hasil ekspor harus disimpan di instrumen mata uang domestik. Kewajiban penempatan DHE SDA cuma berlaku bagi para eksportir dengan nilai ekspor pada pemberitahuan pabean ekspor (PPE) minimal 250 ribu dolar AS.

"Apabila terjadi guncangan ke di ekonomi luar negeri atau eksternal, kalau dunia usaha domestiknya punya ketahanan yang tersebut cukup, ini kita harapkan mampu juga merawat kegiatan ekonomi kita (dengan adanya bermacam kebijakan), sehingga pembangunan ekonomi yang mana selama ini sudah ada masuk Itu sanggup terus terjaga bahkan terus meningkat gitu. Sehingga, pada pada waktu berlangsung capital outflow misalnya, kita masih terlindungi dari sumber direct investment yang digunakan masuk ke kita," ucap dia.

Artikel ini disadur dari Kemenko: Kepercayaan investor terhadap ekonomi RI cukup baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *