Kenapa Awal Ramadan juga Lebaran di tempat Indonesia Sering Berbeda? Ini adalah Penjelasannya

Ragam37 Dilihat

IDN Bisnis Jakarta – Di Indonesia, terdapat perbedaan pendapat mengenai penetapan awal puasa juga lebaran. Hal ini terjadi akibat banyaknya organisasi keagamaan Islam di tempat Indonesia yang tersebut memiliki pendapat masing-masing, seperti Muhammadiyah hingga NU.

Seperti diketahui, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama terus-menerus menentukan awal bulan Ramadan lalu Syawal atau lebaran melalui sidang isbat. 

Sedangkan, organisasi seperti Muhammadiyah sudah pernah lebih banyak dulu menetapkan awal puasa lalu lebaran melalui metode hisab atau perhitungan bulan yang sudah pernah lama digunakan di perhitungan kalender Islam Muhammadiyah.

Dikutip dari muhammadiyah.or.id, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1445 Hijriah jatuh pada 11 Maret 2024. Sedangkan, Idul Fitri 1 Syawal 1445 bertepatan dengan 10 April 2024. Penetapan 1 Ramadan lalu Idul Fitri itu dinyatakan pada surat penetapan Hasil Hisab Awal Ramadhan, 1 Syawal, juga 10 Zulhijah 1445 H.

Sementara itu, Direktorat Urusan Agama Islam lalu Pembinaan Syariah Kementerian Agama (Kemenag) RI sudah menyusun kalender Hijriah Indonesia 2024. 

Berdasarkan kalender tersebut, awal puasa Ramadan 2024 atau 1 Ramadan 1445 H versi pemerintah jatuh pada 12 Maret 2024. Sedangkan, lebaran atau 1 Syawal 1445 H akan bertepatan dengan 10 April 2024.

Meski begitu, penetapan tanggal yang dimaksud masih belum pasti sebab Kementerian Agama harus melakukan sidang isbat terlebih dahulu pada satu hari sebelum puasa serta lebaran untuk mengamati hilal.

Lantas, kenapa awal Ramadan serta lebaran di dalam Indonesia rutin berbeda? Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.

Alasan Perbedaan Awal Puasa kemudian Lebaran pada Indonesia

Melansir dari laman Nahdlatul Ulama atau NU Online, beberapa jumlah ulama berbeda pendapat pada menetapkan awal bulan Ramadan. Ada dua kelompok ulama yang digunakan penetapan Ramadan-nya digunakan di dalam Indonesia.

Pertama, mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan juga Hanbali menyatakan bahwa awal bulan Ramadhan cuma mampu ditetapkan dengan menggunakan metode rukyat (observasi/ mengamati hilal) atau istikmal, yaitu menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

Hal ini berdasarkan firman Allah pada surah Al-Baqarah ayat 185 dan juga hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. 

“Berpuasalah kalian lantaran meninjau hilal juga berbukalah kalian lantaran melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya) maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari, hadits no. 1776).

Kedua, sebagian ulama yang tersebut meliputi Ibnu Suraij, Taqiyyuddin al-Subki, Mutharrif bin Abdullah lalu Muhammad bin Muqatil, menyatakan bahwa awal puasa dapat ditetapkan dengan metode hisab (perhitungan untuk menentukan kedudukan hilal).

Para ulama yang dimaksud berpedoman pada hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga firman Allah di Al-Qur’an surah Yunus ayat 5. 

“Dialah yang tersebut menjadikan matahari bersinar kemudian bulan bercahaya, juga Dialah yang mana menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, kemudian perhitungan (waktu),” Q.S. Yunus ayat 5.

Perbedaan penyelenggaraan dua metode inilah yang menghasilkan awal Ramadan lalu lebaran dalam Indonesia banyak berbeda antara Muhammadiyah lalu pemerintah. 

Selain itu, Muhammadiyah juga menggunakan kriteria wujudul hilal, yang telah dilakukan lama dijadikan dasar untuk menentukan awal bulan pada kalender Islam Muhammadiyah. 

Sementara pemerintah, merujuk pada kriteria-kriteria visibilitas hilal yang tersebut ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, lalu Singapura (MABIMS).

Dilansir dari brin,go.id, MABIMS merupakan kriteria baru penetapan 1 Ramadan kemudian 1 Syawal yang dimaksud ditetapkan oleh Menteri Agama dari empat negara. Syarat ini baru dipakai pada Indonesia pada 2022, khususnya pada penentuan awal Ramadan lalu hari raya 1443 H.

Pada kriteria baru ini, ketentuan tinggi hilal minimal terlihat 3 derajat lalu elongasi minimal 6,4 derajat. Hal ini tambahan tinggi dari ketentuan sebelumnya yang digunakan berdasarkan tinggi hilal minimal 2 derajat lalu elongasi atau jarak sudut bulan ke matahari minimal 3 derajat dan juga umur bulan minimal 8 jam.

RADEN PUTRI

Pilihan Editor: Ragam Promo Shopee Menjelang Lebaran: Gratis Ongkir hingga Diskon Tiket Transportasi

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *