Ketahanan perbankan Tanah Air pada era suku bunga tinggi

Market23 Dilihat

Ibukota – Bidang perbankan memainkan peranan penting pada menopang perekonomian dunia, baik dalam negara progresif ataupun negara berkembang, satu di antaranya Indonesia.

Melalui penyaluran kredit ke perusahaan beraset skala besar hingga usaha mikro, kecil dan juga menengah, perbankan membantu meningkatkan pembangunan ekonomi serta perkembangan ekonomi.

Bagi pemerintah, perbankan mempunyai peranan penting untuk membiayai proyek- proyek infrastruktur dan juga pembangunan nasional, melalui pinjaman ataupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

Bagi masyarakat, perbankan berperan penting untuk meningkatkan akses terhadap komoditas atau jasa keuangan, dengan menyediakan produk- hasil keuangan seperti tabungan hingga deposito.

Selain itu, perbankan juga menyediakan komoditas pinjaman yang digunakan memudahkan masyarakat pada melakukan aktivitas konsumsi, misalnya kredit kepemilikan rumah (KPR) hingga kredit kepemilikan kendaraan bermotor.

Pada tahun 2024 ini, sektor perbankan dalam Tanah Air sedang menghadapi tantangan yang tersebut tidak ada mudah, seiring dengan tren era suku bunga tinggi (higher for longer) di tingkat global yang tersebut diperkirakan masih akan berlanjut.

Bumi sedang di tahap transisi pasca pandemi COVID-19. Bersamaan dengan itu, muncul konflik- konflik geopolitik pada bervariasi wilayah, sebelumnya antara Rusia dengan Ukraina, dan juga ketika ini pada Timur Tengah yang mana masih memanas.

Konflik geopolitik menyebabkan tarif komoditas salah satunya minyak mentah melonjak dan juga menyebabkan rantai pasok global terganggu, yang dimaksud akhirnya memunculkan tingginya nomor kenaikan harga di dalam berubah-ubah negara, baik negara berprogres ataupun maju.

Dengan demikian, untuk merawat stabilitas tingkat kenaikan harga di dalam masing- masing wilayah mereka, beragam bank sentral di planet menerapkan serta melanjutkan kebijakan suku bunga tinggi.

Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed pada pertarungan The Federal Open Market Committee (FOMC) pada 1 Mei 2024 masih mempertahankan tingkat Fed Fund Rate (FFR) pada level 5,25-5,5 persen.

Bahkan, sebelumnya Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Pemuka (RDG) BI pada 23-24 April 2024, meningkatkan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25 persen.

Perbankan RI solid

Di sedang era suku bunga besar atau higher for longer, sektor perbankan di negeri terpantau masih tangguh dan juga mencatatkan kinerja positif selama kuartal I-2024, berkaca dari penyaluran kredit yang dimaksud masih tumbuh.

Bank Indonesia (BI) melaporkan kredit perbankan meningkat 12,40 persen year on year (yoy) pada kuartal I-2024, ditopang oleh perkembangan kredit pada hampir seluruh sektor perekonomian.

Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan kredit ditopang oleh kredit investasi, kredit modal kerja, lalu kredit konsumsi yang tersebut setiap-tiap sebesar 14,83 persen (yoy), 12,30 persen (yoy), lalu 10,22 persen (yoy).

Ketersediaan likuiditas perbankan juga permanen kuat, tercermin dari tingginya rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,18 persen yang digunakan didukung oleh Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Bank Indonesia.

Dari sisi perusahaan, bank- bank besar (big caps) ke Tanah Air masih mencatatkan pertumbuhan kredit, bahkan beberapa melampaui pertumbuhan bidang yang dimaksud sebesar 12,40 persen (yoy).

PT Bank Central Asia Tbk atau BCA mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 17,1 persen (yoy) berubah menjadi senilai Rp835,7 triliun pada kuartal I-2024, atau berada di menghadapi rata-rata industri.

PT Bank Mandiri Tbk atau Bank Mandiri mencatatkan peningkatan kredit konsolidasi sebesar 19,1 persen (yoy) bermetamorfosis menjadi senilai Rp1.435 triliun pada kuartal I- 2024, atau berada di dalam berhadapan dengan rata-rata industri.

PT Bank Rakyat Indonesi Tbk atau BRI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 10,89 persen (yoy) bermetamorfosis menjadi senilai Rp1.308,65 triliun pada kuartal I- 2024.

PT Bank Negara Indonesi Tbk atau BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 9,6 persen (yoy) bermetamorfosis menjadi senilai Rp695,16 triliun pada kuartal I- 2024, dibandingkan senilai Rp634,3 triliun pada periode sejenis tahun sebelumnya.

PT Bank Tabungan Negara Tbk atau BTN mencatatkan perkembangan kredit sebesar 14,8 persen (yoy) menjadi senilai Rp344,2 triliun pada kuartal I- 2024, atau berada ke melawan rata-rata industri.

Kinerja positif akan berlanjut

Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Nusantara Rully Arya Wisnubroto optimistis kinerja sektor perbankan ke Tanah Air masih akan permanen positif sepanjang tahun ini.

Faktor fundamental masih akan menopang kinerja sektor perbankan di dalam sedang era suku bunga membesar yang digunakan diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2024.

Dengan kebijakan makroprudensial yang dimaksud longgar juga disertai dengan likuiditas yang masih memadai, menurutnya, perkembangan kredit perbankan masih akan kekal kuat kemudian dapat mengupayakan perkembangan sektor ekonomi nasional.

Ia pun meyakini sektor perbankan ke Tanah Air masih akan mencatatkan peningkatan kredit yang masih membesar atau sejalan dengan proyeksi BI dengan berada di dalam kisaran 10- 12 persen (yoy).

“Rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) juga masih relatif terjaga dalam bawah 85 persen, serta dengan tingkat kredit tak lancar (NPL) yang dimaksud juga masih rendah, ruang bagi peningkatan peningkatan kredit juga masih terbuka,” ujar Rully.

Namun, ia mengingatkan terdapat juga risiko yang tersebut harus ke mitigasi ke depan agar stabilitas sektor keuangan tetap terjaga, seiring dengan kebijakan stimulus restrukturisasi kredit perbankan untuk dampak Virus Corona telah terjadi berakhir pada 31 Maret 2024, yang tersebut akan menyebabkan perbankan akan lebih besar berhati-hati pada menyalurkan kredit.

Seiring dengan itu, Chief Economist BCA David Sumual menyampaikan kesempatan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan di Tanah Air masih akan terbuka lebar seiring dengan permintaan rakyat yang menguat.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa situasi perekonomian akan lebih besar menantang pada tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, yang digunakan mana prospek sektor ekonomi nasional tak akan terlepas dari status dunia usaha pada tingkat global.

“Tahun ini (ekonomi) kita masih bisa saja meningkat kurang tambahan 5 persen (yoy). Kita berharap dari sisi pembangunan ekonomi ada banyak factor lain yang dimaksud kita perhatikan. Kita cautiously optimistic lah dalam tahun ini. Industri konsumsi juga cukup bagus. Perilakunya ke tahun ini relatif lebih besar baik,” ujar David.

Selaras dengan hal itu, dengan indikasi penyaluran kredit baru pada triwulan I 2024 yang tersebut berkembang positif, Bank Tanah Air optimistis pada triwulan II 2024 penyaluran kredit baru diprakirakan terus berkembang dengan prakiraan Saldo Bersih Tertimbang (SBT)  penyaluran kredit baru sebesar 57,6 persen, sedangkan SBT pada  triwulan I 2024 sebesar 60,8 persen.

Hasil survei  menunjukkan responden terus optimistis terhadap pertumbuhan kredit ke depan. Responden memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2024 akan terus tumbuh, antara lain didorong oleh prospek kondisi moneter serta sektor ekonomi dan juga relatif terjaganya risiko pada penyaluran kredit.
 

Artikel ini disadur dari Ketahanan perbankan Tanah Air di era suku bunga tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *