Kisah Belanda Rela Lepas New York Demi Wilayah RI

Entrepreneur26 Dilihat

IDN Bisnis

Jakarta, CNBC Indonesia – New York dikenal sebagai pusat industri dan juga kegiatan ekonomi dunia. Namun, di balik kejayaan itu ada cerita menarik mengenai ‘tukar guling’ wilayah antara Manhattan (milik Belanda) dengan Maluku (milik Inggris).

Bagaimana ceritanya?

Tukar Guling Wilayah

Pada 2 Februari 1653, Belanda mendirikan kota Nieuw Amsterdam sebagai tanda kekuasaan pada Amerika. Sayang, Belanda tidaklah dapat tenang menguasai kota kecil ini.

Inggris yang mana lebih besar dulu berkuasa terus mengganggunya. Inggris percaya kalau Niew Amsterdam sebagai kota pelabuhan akan tambahan forward di area masa depan. Alhasil, terjadilah beberapa pertempuran sengit. Hingga akhirnya mengantarkan kedua negara pada satu perjanjian penting bernama Treaty of Breda pada 31 Juli 1667.

Inti perjanjian yang disebutkan adalah tukar guling wilayah. Pulau Run di tempat Maluku yang digunakan dikuasai Inggris harus diserahkan ke Belanda. Sedangkan Belanda harus menyerahkan Nieuw Amsterdam ke Inggris.

Alasan kuat Belanda rela melepas kota penting dalam Amerika demi sebuah pulau pada Maluku tentu berkaitan dengan rempah-rempah. Kala itu, Pulau Run jadi satu-satunya pulau yang mana ditumbuhi pohon pala walaupun hanya saja seluas 330 hektar atau setara 4 kali luas Monas.

Pikir Belanda, dengan menguasai Pulau Run keuntungan melimpah mampu didapat. Sebab, ketika itu permintaan rempah-rempah di tempat Eropa sedang tinggi-tingginya. Beranjak dari sinilah, Belanda menyetujui isi perjanjian. Pulau Run lalu dimiliki Belanda. Sementara, Nieuw Amsterdam diakusisi Inggris. 

Nasib Beda Pulau Run serta Nieuw Amsterdam

Seiring berjalannya waktu, Nieuw Amsterdam kemudian berubah nama menjadi New York juga kian tumbuh pesat. Arus perdagangan serta perputaran uang terjadi pada sana di jumlah agregat besar. Hal ini kemudian jadi daya tarik bagi orang-orang untuk tinggal lalu beraktivitas di area New York. Banyaknya orang ini kemudian jadi penggerak perekonomian New York.

Menurut Edward L. Glaeser pada “Urban Colossus: Why Is New York America’s Largest City?” (2005), cepatnya roda perekonomian bergerak menyebabkan New York menjadi pusat jaringan perdagangan global sejak abad ke-17. Terlebih usai berdiri kawasan Wall Street sebagai tempat penanaman modal dengan hadirnya New York Stock and Exchange Board (NYSE) pada 1817. 

Keberadaan bursa efek baru itu kemudian menjadi penambah daya tarik New York. Sampai sekarang, New York menjadi kota penting dunia pada sektor usaha juga ekonomi. Sayang, kesuksesan New York tiada terjadi pada Pulau Run. Setelah diakusisi Belanda, pamor Pulau Run meredup.

Menurut Des Alwi pada Sejarah Maluku (2005), pada waktu diambilalih Belanda, pohon pala Pulau Run bukan lagi produktif pada waktu Belanda tiba. Rupanya Inggris sudah memindahkan tumbuhan pala ke beberapa negeri koloninya. Alhasil, Belanda pun harus menerima nasib

Setelah beratus-ratus tahun kemudian, nasib Belanda tetap memperlihatkan sama. Sampai Indonesia merdeka, Pulau Run tak lagi terdengar gaungnya. Hal ini berbeda dengan New York yang dimaksud semakin terkenal.

Hanya saja, di area masa sekarang, pesona Pulau Run mulai mengangkat usai menjadi salah satu destinasi wisata populer di area Indonesia Timur. 

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *