Kisah Bisnis Salim yang dimaksud Ambruk Setelah 3 Dekade Menguasai RI

Market12 Dilihat

IDN Bisnis

Jakarta – Sudono Salim alias Liem Sioe Liong merupakan orang pengusaha perusahaan tersohor yang mana mendirikan Salim Group. Ia merupakan konglomerat ternama Indonesia yang tersebut mempunyai catatan perjalanan kegiatan bisnis panjang, hingga dikenal dekat dengan mantan Presiden Soeharto ketika masih menjabat sebagai kolonel.

Pada masa-masa awal terbentuknya Indonesia sebagai sebuah negara, Sudono Salim dikenal sebagai pengusaha perusahaan impor cengkeh kemudian logistik tentara. Kini, berbagai orang mengetahui bahwa kepemilikan Salim Group meliputi Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, BCA, Indomaret, Indomarco, PT Mega, lalu masih berbagai lainnya.

Jaringan bisnisnya yang tersebut luas menyebabkan Kolonel Soeharto ingin bekerja serupa dengannya. Jalinan perkenalan pun terjadi pasca sepupu Soeharto, Sulardi menjadi perantara pertemuan keduanya. Salim kemudian menjadi penyuplai logistik pasukan Kolonel Soeharto semasa Perang Kemerdekaan (1945-1949).

“Setelah Soeharto meraih kekuasaan di dalam Indonesia pada pertengahan 1960-an serta menjadi presiden, beliau didukung oleh kelompok kroni pengusaha, yang mana terbesar kemudian terkuat adalah Liem Sioe Liong,” tulis Richard Borsuk juga Nancy Chng pada Liem Sioe Liong juga Salim Group (2016), diambil Hari Minggu (21/1/2024).

Keduanya terlibat di relasi saling menguntungkan selama tiga dekade. Soeharto melindungi Liem kemudian melakukan konfirmasi bisnisnya berjalan lancar. Liem lewat kerajaan usaha Salim Group menyalurkan dana untuk Soeharto, keluarga, kemudian kroni lainnya.

Alhasil, kedua pihak pun berjaya di tempat jalannya masing-masing. Salim sukses terdaftar sebagai orang terkaya di tempat Indonesia. Sedangkan Soeharto juga sukses memegang kuasa dalam Tanah Air. Namun, kejayaan keduanya secara tiba-tiba hancur sekejap di waktu beberapa hari cuma pada Mei 1998.

Salim sukses memulai pembangunan tiga kerajaan usaha di tempat tiga sektor, antara lain perbankan (Bank Central Asia, BCA), bangunan (Indocement), dan juga makanan (Bogasari juga Indofood). Namun, itu semua perlahan rontok pada waktu memasuki krisis 1998. BCA menjadi yang digunakan terparah.

Sejarawan M.C Ricklefs di Sejarah Indonesia Modern (2009) menyebut, selama masa krisis klien menarik dana secara massal juga besar-besaran. Bermacam-macam orang rela antre berjam-jam untuk menguras seluruh tabungannya. Kondisi ini menyebabkan BCA yang dimaksud tidak ada lagi dipercaya penduduk terancam bangkrut. Rangkaian krisis ini mencapai puncak pada Mei 1998.

Kedekatan dengan Soeharto rupanya menjadi malapetaka bagi Salim pada waktu itu. Munculnya sentimen anti-Soeharto buntut meluasnya krisis dunia usaha ke kemelut urusan politik menjadi pukulan telak bagi Salim. Rakyat yang mengetahui kedekatan keduanya menjadikan Salim sebagai target sasaran. Hal ini terjadi usai unjuk rasa beralih menjadi kerusuhan rasial pada 13 Mei 1998.

Hari itu, DKI Jakarta lalu sekitarnya dilanda kerusuhan, penjarahan, serta pembakaran terhadap rumah, bangunan pertokoan lalu sejumlah kendaraan (Kompas, 14 Mei 1998). Aksi ini diadakan oleh massa yang telah terprovokasi. Mereka menyasar bangunan lalu kendaraan milik orang Tionghoa, bahkan berusaha mencapai orang Tionghoa itu sendiri.

Jemma Purdey di Kekerasan Anti-Tionghoa di dalam Indonesia 1996-1999 (2013) menjelaskan munculnya sentimen rasial terhadap Tionghoa disebabkan dikarenakan ada stereotip bahwa merek patut dibenci hanya saja lantaran kaya raya dan juga dekat dengan penguasa Soeharto. Dan tokoh sentral yang melekat dengan deskripsi itu adalah Sudono Salim.

“Perusahaan para cukong dan juga keluarga Soeharto merupakan sasaran utama pembakaran kemudian penjarahan. Bank Central Asia milik Liem Sioe Liong merupakan objek serangan utama,” tulis Ricklefs.

Richard Borsuk kemudian Nancy Chng pada Liem Sioe Liong kemudian Salim Group (2016), mengungkapkan meskipun dijadikan target amukan massa, Sudono Salim, istri, juga beberapa anaknya sedang berada di tempat Amerika Serikat menemani Salim yang akan operasi mata. Di Jakarta, hanya sekali ada Anthony Salim yang digunakan bekerja di area Wisma Indocement, Jl. Sudirman.

Anthony kala itu sampai tidaklah berani pulang ke rumah bapaknya di area kawasan Roxy. Sebab, kerusuhan massa juga menyasar permukiman warga Tionghoa. Dikhawatirkan, jikalau Salim berdiam diri di area rumahnya, beliau mampu terbunuh.

Prediksi itu kemudian benar terjadi. Dini Hari hari pada 14 Mei, Anthony menerima kabar kalau rumah bapaknya didatangi sekelompok pemuda bertampang mengancam, bersenjatakan jerigen unsur bakar, kemudian perkakas. Mereka ingin masuk ke rumah mewah Liem.

Anthony tak berkutik. Dia segera memerintahkan satpam untuk mempersilahkan massa masuk merusak rumahnya, ketimbang dihadang dan juga terjadi pertumpahan darah.

“Dalam sekejap, seluruh mobil di area garasi terbakar, termasuk juga seisi rumah. Mereka membakar furnitur, mencopot lukisan juga mengobrak-abrik kamar. Bahkan mereka mencoret-coret rumah dengan kata-kata tidaklah pantas,” tutur Anthony untuk Richard Borsuk juga Nancy Chng.

Setelah beberapa menit melakukan itu, asap hitam dengan cepat membumbung tinggi dari kediaman Salim. Di jalanan, foto Salim dilempari batu lalu dibakar oleh massa yang marah. (Kompas, 15 Mei 1998).

Melihat situasi Ibukota Indonesia yang sangat parah, Anthony segera berpikir untuk pergi meninggalkan kantornya. Dia takut kalau kantornya akan bernasib identik seperti rumahnya. Dia lantas pergi ke Bandara Halim untuk menuju Singapura memakai pesawat jet pribadi. Dari sanalah, Anthony memantau perkembangan bisnisnya pasca masa-masa sulit itu.

Setelah kerusuhan mereda dan juga Soeharto akhirnya lengser, BCA mengalami kerugian paling parah. Tercatat ada 122 cabang rusak yang dimaksud terdiri dari 17 kantor terbakar habis, 26 cabang dirusak kemudian dijarah, juga 75 cabang rusak tetapi tidaklah dijarah. Lalu, ada 150 ATM yang dirusak dan juga diambil uang tunainya hingga menelan kerugian Simbol Rupiah 3 miliar.

Selain BCA, Indofood juga mendapat serangan. Pabriknya pada Solo dijarah kemudian dibakar hingga menelan kerugian Mata Uang Rupiah 42 miliar. Pusat distribusinya di area Tangerang juga hancur dijarah massa. Hanya Indocement yang digunakan masih sanggup bertahan.

Meski begitu, pukulan telak terjadi pada kerajaan usaha sektor perbankan. Seminggu setelahnya Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, BCA diambil alih oleh pemerintah oleh sebab itu kondisi keuangannya semakin berdarah-darah tak tertolong. eksekutif lewat Badan Penyehatan Lembaga Keuangan Nasional (BPPN) resmi menjadikan BCA sebagai BTO (Bank Taken Over). Pengambilalihan ini bertujuan untuk menolong BCA agar tidak ada jatuh terlalu dalam.

Sejak itulah, BCA tidaklah lagi menjadi milik keluarga Salim. Richard Borsuk lalu Nancy Chng mengumumkan untuk menghidupi kembali mesin-mesin kekayaannya, Salim hanya saja mengandalkan Indofood.

Kini, 25 tahun setelahnya kejadian memilukan itu, usaha keluarga Salim mulai berjaya. Bisnisnya pun tidak ada cuma Indofood, tetapi juga merambah sektor migas, konstruksi, dan juga perbankan.

Artikel Selanjutnya Terkuak! Kisah Pecah Kongsi Salim-Djajadi mengenai Indomie

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *