LPEM UI: Perlu kejelasan insentif guna tingkatkan bidang manufaktur

Bisnis19 Dilihat

IDN Bisnis Industri manufaktur merupakan penyumbang item domestik bruto (PDB) terbesar pada perekonomian Indonesia

Jakarta – Pengamat Kondisi Keuangan Lembaga Penyelidikan Perekonomian dan juga Warga (LPEM) Fakultas Kondisi Keuangan serta Bisnis Universitas Indonesia Teuku Riefky mengungkapkan perlu adanya kejelasan insentif yang tersebut diberikan guna meningkatkan perkembangan lapangan usaha manufaktur.
 

"Industri kita perlu diekspose pada persaingan dengan produk-produk luar disertai dengan insentif . Namun tidak berarti harus diproteksi secara utuh, kemudian bukan terekspose dari sisi persaingan terhadap kondisi global," katanya di area Jakarta, Minggu.

 

Dirinya mengungkapkan sektor manufaktur mengalami berbagai tantangan yang digunakan menciptakan performanya tidaklah maksimal. Mulai dari daya saing tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja, penanaman modal yang masuk, iklim persaingan usaha, juga infrastruktur.

 

Menurutnya dari sisi kebijakan fiskal Indonesia seperti bea masuk kemudian sebagainya bergabung punya andil pada daya saing sektor bidang manufaktur Indonesia.

 

"Banyak kebijakan dari sisi regulasi, investasi, perbaikan infrastruktur, kemudahan berusaha, dan juga regulasi terkait misalnya pembelian lahan yang tersebut memberikan dampak negatif terhadap bidang di negeri," ujarnya.

 

Oleh akibat itu kejelasan yang disebutkan guna menjaga pertumbuhan manufaktur pada Indonesia pasca pandemi Pandemi yang tersebut sudah ada mulai pulih, dan juga menunjukkan perkembangan positif.

 

"Sektor manufaktur merupakan penyumbang item domestik bruto (PDB) terbesar pada perekonomian Indonesia,” ujarnya.

 

Adapun persepsi pelaku bidang usaha di tempat Indonesia ketika ini ada pada teritori positif, dengan pandangan optimis mengenai pertumbuhan sektor sektor manufaktur.

 

S&P Global merilis data Purchasing Manager’s Index (PMI) Proses Produksi Indonesia pada bulan Maret 2024 yang mana berada di tempat level 54,2 atau naik 1,5 poin jika dibandingkan capaian bulan Februari yang mana menyentuh bilangan bulat 52,7.

 

Angka itu menunjukkan bahwa sektor lapangan usaha manufaktur Indonesia sedang berada pada tempat ekspansif selama 31 bulan berturut-turut. Hal ini juga sejalan dengan capaian Angka Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan Maret yang mana sama-sama berada pada fase ekspansi pada level 53,05.

 

Kinerja PMI Pabrik Indonesia pada Maret 2024 lebih besar baik dibandingkan PMI Pabrik negara-negara lain yang masih berada di tempat fase kontraksi, seperti Negara Malaysia (48,4), Thailand (49,1), Vietnam (49,9). Bahkan pencapaian yang disebutkan lebih lanjut baik dari beberapa negara sektor maju seperti Negeri Matahari Terbit (48,2), Korea Selatan (49,3), Jerman (41,6), Prancis (45,8), dan juga Inggris (49,9).

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *