Waktu senja Selikuran pada Solo, Tradisi Unik Keraton Surakarta Sambut Waktu petang Lailatul Qadar

Syariah15 Dilihat

IDN Bisnis Jakarta – Keraton Kasunanan Surakarta atau Keraton Solo secara turun temurun mengadakan peringatan tegas di malam hari selikuran sebagai bagian dari upacara menyambut waktu malam Lailatul Qadr atau di malam hari seribu bulan.

Tradisi ini dicirikan dengan prosesi mengarak tumpeng sewu (seribu) dan juga lampion dari keraton ke Sriwedari. Beberapa anggota penduduk memahami tradisi tumpeng sewu pada peringatan serius Waktu senja Selikuran ini sebagai lambang berkah.

Tahun ini, Waktu petang Selikuran akan dirayakan pada 30 Maret 2024. Prosesi dimulai dengan langkah-langkah tegap para prajurit Keraton Surakarta yang digunakan pergi dari dari pintu utama keraton, yang dimaksud disebut kori kamandungan. Barisan pertama terdiri dari prajurit yang tersebut menghadirkan umbul-umbul juga bendera keraton. Perjalanan iring-iringan kirab dari Keraton menuju Masjid Agung Surakarta.

Istilah “Malam Selikuran” sendiri berasal dari bahasa Jawa “Selikur”, yang digunakan artinya dua puluh satu, mengacu pada di malam hari ke-21 pada bulan Ramadan. Waktu senja ini juga diperingati sebagai ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali pada bentuk ayat Al Quran.

Sejarah Waktu senja Selikuran

Dilansir dari surakarta.go.id, waktu malam Selikuran merupakan tradisi unik pada Keraton Surakarta yang dimaksud diadakan untuk menyambut kedatangan lailatul qadar. Bagi umat Islam, lailatul qadar dianggap istimewa dikarenakan lebih banyak berharga dari seribu bulan lalu jatuh pada malam-malam ganjil di 20 hari terakhir bulan Ramadan selama berpuasa.

Kegiatan Waktu senja Selikuran berlangsung pada tanggal 20 atau 21 Ramadan setiap tahunnya. Tradisi ini awalnya diperkenalkan oleh Sultan Agung, namun mengalami variasi sepanjang sejarahnya. Di era Pakubuwana IX, kegiatan ini dihidupkan kembali dan juga mencapai puncaknya pada masa Pakubuwana X.

Pada masa itu, Waktu petang Selikuran melibatkan prosesi mengarak tumpeng dari Keraton ke Masjid Agung Surakarta, disertai dengan lampu ting atau pelita. Lampu ting melambangkan obor yang tersebut dibawa oleh sahabat Nabi Muhammad SAW ketika dia menjemputnya setelahnya menerima wahyu dalam Jabal Nur.

Meskipun begitu, dikatakan bahwa tradisi Waktu senja Selikuran telah berlangsung sejak zaman Walisongo, yang tersebut mengindikasikan kegiatan spiritual mendekatkan diri terhadap Allah pada malam-malam terakhir bulan Ramadan. Praktik ini kemudian diadaptasi ke di budaya Jawa, menjadi tradisi yang mana dikenal sebagai Waktu petang Selikuran.

Makna Waktu petang selikuran

Masyarakat Jawa memandang Selikuran (21 Ramadan) sebagai momen yang tersebut memiliki makna khusus. Tradisi Waktu petang Selikuran merupakan perpaduan antara budaya serta agama yang tersebut kaya akan signifikansi. Umumnya, rakyat Jawa merayakan Waktu petang Selikuran dengan berbagai tradisi yang mana beragam. Kehadiran tradisi ini sangat istimewa sebab menampilkan berbagai nilai positif pada peringatannya.

Dikutip dari laman surakarta.go.id, 21 Ramadan menurut ajaran Islam dimaknai istimewa lantaran pada sejarah awal Islam, Rasulullah Saw memulai beri’tikaf. Beri’tikaf, yang dimaksud pada bahasa simpel berarti berdiam diri, merupakan sebuah ibadah yang digunakan dianjurkan untuk dilaksanakan di dalam masjid, teristimewa pada bulan suci Ramadhan, juga lebih lanjut khususnya lagi pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk mencari di malam hari Lailatul Qadar. 

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *