Mandi Wajib Saat Puasa Boleh atau Tidak Dilakukan Setelah Subuh?

Syariah30 Dilihat

IDN Bisnis

Jakarta, CNBC Indonesia – Selain mandi haid, mandi wajib diadakan pasca suami istri melakukan hubungan intim yang dikategorikan sebagai hadas besar.

Hadas besar bisa jadi muncul ketika seseorang melakukan masturbasi, bercinta hingga mimpi basah.

Bagi umat Muslim, mandi wajib menjadi salah satu hal yang harus dijalankan sebelum hendak melaksanakan puasa Ramadan. 

Mandi wajib juga dikenal dengan istilah janabah. Menurut Saiyid Mahadhir, Lc, MA mandi janabah atau mandi wajib menggunakan air yang dimaksud suci pada seluruh tubuh dengan tata cara yang digunakan khusus dengan syarat-syarat kemudian rukun-rukunnya.

Mereka yang mana sedang di kondisi janabah ini hukumnya wajib mandi terlebih dahulu agar dapat menjadi suci. Dengan begitu sanggup melaksanakan ibadah seperti sholat, membaca Al-Qur’an juga melaksanakan puasa Ramadan, demikian mengutip detik.

Allah SWT berfirman pada surat Al-Baqarah ayat 187

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Arab-Latin: Uḥilla lakum lailataṣ-ṣiyāmir-rafaṡu ilā nisā`ikum, hunna libāsul lakum wa antum libāsul lahunn, ‘alimallāhu annakum kuntum takhtānụna anfusakum fa tāba ‘alaikum wa ‘afā ‘angkum, fal-āna bāsyirụhunna wabtagụ mā kataballāhu lakum, wa kulụ wasyrabụ ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr, ṡumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-laīl, wa lā tubāsyirụhunna wa antum ‘ākifụna fil-masājid, tilka ḥudụdullāhi fa lā taqrabụhā, każālika yubayyinullāhu āyātihī lin-nāsi la’allahum yattaqụn

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada waktu malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; merek adalah pakaian bagimu, serta kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tiada dapat menahan nafsumu, oleh sebab itu itu Allah mengampuni kamu dan juga memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah merekan kemudian ikutilah apa yang mana telah terjadi ditetapkan Allah untukmu, serta makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri dia itu, sedang kamu beri’tikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya terhadap manusia, supaya merekan bertakwa.”

Lalu bagaimana ketika belum mandi junub sampai datangnya waktu subuh?

Mungkin Anda pernah menunda mandi wajib ketika puasa dikarenakan terlalu dingin atau sebab lainnya. Padahal pasca subuh kita harus melanjutkan puasa Ramadan.

Dr. Muh. Hambali, M. Ag di Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari dari Kandungan hingga Kematian menjelaskan, jumhur (mayoritas) ulama fiqh (para imam empat mahzab) berpendapat bahwa sengaja menunda mandi junub atau mandi besar hingga pasca terbit fajar tidaklah mempengaruhi sah atau tidaknya puasa. Sama saja, baik mandi yang disebutkan ditunda secara sengaja atau lantaran lupa.

Dalilnya adalah hadits yang tersebut diriwayatkan Aisyah kemudian Ummu Salamah, “Nabi Muhammad SAW pernah memasuki waktu Subuh di keadaan junub dikarenakan berjima’. Kemudian (setelah waktu subuh tiba beliau mandi dan juga berpuasa.” (HR. Bukhari dan juga Muslim).

Syaikh Wahbah Al-Zuhaili pada kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu menjelaskan, barangsiapa di area waktu subuh masih junub atau perempuan haid yang mana telah suci sebelum fajar, kemudian keduanya mandi pasca fajar, maka puasa pada hari itu sudah ada mencukupi bagi keduanya (sah).

Muhammad Anis Sumaji pada 125 Permasalahan Puasa menekankan bahwa apabila terpaksa harus mandi wajib setelahnya subuh yang paling penting adalah ia segera mandi wajib akibat harus salat subuh. Salat Subuhnya itu yang tersebut mensyaratkan dirinya harus bersuci dari hadas besar.

Salah satu bukti hadas besar tidak termasuk ketentuan sah puasa adalah apabila seseorang tidur lalu mimpi ‘basah’ di dalam siang hari bulan Ramadan. Puasanya tidak ada batal meskipun bukan dengan segera mandi ketika itu juga, ia tetap saja mandi wajib ketika akan melaksanakan salat.

Yang membatalkan puasa ialah jikalau seseorang sengaja melakukan hal-hal yang mana menghasilkan dirinya berhadas besar pada ketika sedang berpuasa. Misalnya berhubungan suami istri pada siang hari.

Jadi mandi wajib pada waktu puasa dapat dilaksanakan setelahnya subuh ya. Dan jangan lupa untuk melaksanakan mandi janabah sebelum sholat subuh agar ibadah kita bisa saja diterima dengan sempurna oleh Allah SWT.

Artikel Selanjutnya Hukum Mimpi Basah Saat Puasa, Apakah Batal atau Boleh Lanjut?

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *