Meneropong Efek Euforia Pemilihan Umum 2024 Terhadap Pasar Modal RI

Bisnis30 Dilihat

IDN Bisnis JAKARTA – Penghitungan resmi ( real count ) calon Presiden-Wakil Presiden RI masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pemodal bursa modal dinilai masih terbawa sentimen hasil penghitungan cepat ( quick count ).

Analis Pasar Modal serta Head of Business Development PT FAC Sekuritas Indonesia, Kenji Putera Tjahaja mengatakan, pemodal menantikan kepastian terhadap hasil pemilu. Pasar dinilai masih meraba hiasil sementara real count KPU.

“Biasanya market akan lebih tinggi suka kepastian-kepastian tentang isu keberlanjutan. Kalau memang benar hasil (quick count) tak sangat berbeda dengan KPU, entah satu atau dua putaran, market sendiri masih cukup stabil,” kata Kenji di Power Breakfast, IDX Channel, hari terakhir pekan (16/2/2024).

Data perdagangan mencatatkan bahwa sehari setelahnya tanggal pencoblosan, Kamis (15/2), nilai transaksi-net beli pemodal asing mencapai Rp2,73 triliun. Jumlah ini melanjutkan realisasi net-buy asing pada sehari sebelum momen pencoblosan, yang digunakan mencapai Rp1,2 triliun.

Saham sektor perbankan blue chip berkapitalisasi besar atau big cap tampak menjadi deretan saham buruan penanam modal asing. Antara lain PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), juga PT Bank Negara Indonesia (BBNI) Tbk (BBNI).

“Big banks memang benar terlepas dari euforia pemilu, secara teknikal memang sebenarnya sudah ada cukup tinggi. Tapi memang benar potensinya cukup bagus,” paparnya.

Adapun Ukuran Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berada dalam zona hijau setelahnya tanggal pencoblosan, menyentuh level tertinggi 30 hari terakhir di area 7.370,57.

Arus modal asing yang mana masuk dalam bursa saham dinilai memberi katalis terhadap indeks komposit. “Inflow pemodal asing senilai R2,73 triliun juga menyokong apresiasi IHSG,” kata Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, Hari Jumat (16/2).

Secara makro, pelaku lingkungan ekonomi juga mencerna data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mana baru sekadar melaporkan surplus neraca perdagangan periode Januari 2024 sebesar USD2,02 miliar, meskipun realisasinya turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD3,29 miliar.

Surplus neraca dagang ditopang oleh ekspor non migas, seperti batu bara, besi kemudian baja, dan juga CPO. Negara yang digunakan berkontribusi terhadap surplus terbesar, yaitu India Amerika Serikat (AS) dan juga Filipina.

“Secara keseluruhan, Indonesia mencatatkan surplus pada 45 bulan beruntun,” tandasnya.

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *