Menko Luhut: GBFA atasi kesenjangan finansial proyek iklim

Finansial39 Dilihat

GBFA akan memobilisasi pendanaan campuran (blended finance), sebuah langkah strategis untuk mengatasi kesenjangan finansial terkait (proyek) iklim lalu pencapaian SDGs

Badung – Menteri Koordinator Lingkup Maritim lalu Pengembangan Usaha Luhut Binsar Pandjaitan mengemukakan bahwa Global Blended Finance Alliance (GBFA) akan bermetamorfosis menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan finansial pada merealisasikan proyek iklim juga pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

“GBFA akan memobilisasi pendanaan campuran (blended finance), sebuah langkah strategis untuk mengatasi kesenjangan finansial terkait (proyek) iklim kemudian pencapaian SDGs,” ujar Luhut pada acara peluncuran sekretariat GBFA dalam Nusa Dua, Bali, Senin.

GBFA diadopsi oleh para pemimpin KTT G20 Bali untuk mempercepat penanaman modal iklim ke negara-negara berkembang, Least Developed Countries (LDC), dan juga negara kepulauan.

Fokus utamanya adalah pada kerja mirip global selatan dan juga pendanaan transisi.

GBFA G20 Bali akan mengupayakan negara-negara untuk merancang juga menerapkan kebijakan yang tersebut tepat, mengembangkan kerangka kelembagaan, teknologi dan juga data, dan juga solusi pembiayaan untuk transisi mencapai SDGs.

“GBFA akan memfasilitasi asas-asas G20 terkait pendanaan campuran (blended finance), menggalang negara-negara merancang kebijakan yang memprioritaskan keperluan kita untuk memulai pembangunan key partnership,” ujar Luhut.

Dalam kesempatan tersebut, Luhut secara resmi meluncurkan sekretariat GBFA yang berbasis di Kawasan Perekonomian Khusus (KEK) Sanur, Bali; penandatangan Letter of Intent oleh para pendiri, kemudian diskusi meja bundar.

“Hari ini, pemerintahan Negara Indonesia secara resmi meluncurkan Sekretariat GBFA yang digunakan berlokasi ke Kawasan Perekonomian Khusus (KEK) Sanur,” kata Luhut.

Dalam kesempatan tersebut, Luhut meminta para perwakilan negara yang digunakan hadir untuk mempererat kerja sebanding internasional melalui bervariasi forum, seperti forum G-20 selanjutnya yang mana akan diselenggarakan ke Rio de Janeiro, Brazil.

“Bersama-sama, kita mampu memulai pembangunan masa depan yang dimaksud tambahan cerah lalu berkelanjutan,” ujar Luhut.

Sebelumnya, Luhut menjelaskan bahwa krisis iklim berubah jadi isu yang penting bagi seluruh negara dalam dunia.

Mengacu pada konsensus UEA COP28 lalu, setiap pihak berjanji untuk melakukan transisi energi dari substansi bakar fosil untuk mempercepat pengurangan emisi NDC.

Luhut meninjau tantangan inovasi iklim dan juga perlunya penutupan proyek besar akibat terdapat kesenjangan pendanaan iklim. Oleh lantaran itu, GBFA hadir sebagai salah satu solusinya.

Dalam hal itu, GBFA juga akan membantu inisiatif konservasi air lalu akan menjembatani kesenjangan antara sumber daya rakyat yang mana tersedia juga pembangunan ekonomi besar-besaran yang dimaksud dibutuhkan Global Water Fund.

 

Artikel ini disadur dari Menko Luhut: GBFA atasi kesenjangan finansial proyek iklim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *