Miliarder Arab Bagikan Harta Bermacam-macam Triliun, Alasannya Bikin Takjub

Entrepreneur18 Dilihat

IDN Bisnis

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebagian orang ingin menghabiskan usia dengan bergelimang harta. Namun, Sulaiman Al Rajhi (95) punya keinginan lain.

Pengusaha lalu miliarder Arab Saudi itu malah ingin hidup miskin dalam kala tua dengan menyumbang seluruh harta untuk kegiatan amal. Bagaimana kisahnya?

Bangkit dari Kemiskinan

Tak seperti orang Arab yang mana kaya dari lahir, Sulaiman Al Rajhi berasal dari keluarga miskin. Akibatnya ia tidaklah memiliki sekolah formal yang digunakan baik akibat harus terpaksa bekerja dalam usia masih sangat muda. 

Di usia 9 tahun, beliau sudah ada meninggalkan kebahagiaan masa kecilnya dengan bekerja sebagai porter di dalam Pasar Al Khadra, Riyadh. Dia harus bolak-balik menyebabkan barang belanjaan pada berhadapan dengan punggung kecilnya. 

Setelahnya, Sulaiman juga harus berulang-kali berganti pekerjaan yang digunakan tentu sangat dari kata enak. Mengutip Forbes Middle East, beliau tercatat pernah jadi pengepul kurma, juru masak, serta pelayan. Selain itu, ia juga pernah punya toko sendiri. 

Menariknya, penghasilan yang tersebut tak seberapa itu terus-menerus ditabung, alih-alih digunakan untuk kegiatan konsumtif. Dia punya rumus menarik: selalu menyisihkan uang untuk ditabung walaupun cuma satu sen. 

“Saya biasa menyimpan setiap sen yang dimaksud saya hasilkan untuk hari berikutnya. Inilah yang tersebut memungkinkan saya memiliki titik awal yang dimaksud saya bangun untuk masa depan saya,” katanya.

Berkat rutin menabung inilah, beliau di area usia 15 tahun sanggup mengadakan pesta pernikahan yang dimaksud sederhana. Setelah menikah, nasib baik datang kepadanya. 

Sulaiman diajak saudaranya, Saleh Al Rajhi, bekerja pada money changer. Kelak, bekerja di dalam money changer membuatnya naik kelas. Dari semula miskin, menjadi orang berduit. Begitu pula bisnisnya. Dari hanya sekali satu gerai, menjadi puluhan. 

Di kala melakukan ekspansi inilah, Sulaiman memutuskan untuk mencari tantangan baru. Pada 1970, ia mendirikan perusahaan money changer sendiri yang di waktu singkat berprogres jadi 30 gerai di dalam seluruh Arab Saudi. Bahkan, sudah ada berhasil melakukan ekspansi ke Mesir juga Lebanon.

Besarnya jaringan bidang usaha memproduksi Sulaiman bersama saudara-saudaranya membentuk perusahaan induk money changer. Belakangan, perusahaan induk ini berubah arah dan memilih terjun dalam dunia perbankan, khususnya bank syariah lewat Al Rajhi Bank.

Kepada Arab News, pria kelahiran 1929 ini bercerita tentang pembangunan bank syariah. Pada awalnya, Sulaiman mengaku tak mudah mendirikan bank syariah. Banyak orang tak percaya kalau bank syariah bisa saja menguatkan kegiatan ekonomi dunia.

Dia pun harus terbang jauh-jauh ke Inggris untuk menemui manajer Bank of England. Di konferensi itu beliau meyakinkan kalau bank syariah dibutuhkan tak hanya sekali bagi umat Islam, tetapi juga kaum Kristiani. 

“Saya bilang ke mereka itu Muslim lalu Kristen menganggap bunga sebagai hal yang digunakan haram, umat Islam lalu Kristen tidaklah mau melakukan operasi dengan bank berdasarkan bunga serta lebih besar memilih untuk menyimpan uang tunai lalu barang berharga lainnya pada di kotak di area rumah mereka,” katanya.

Dari sinilah upaya Sulaiman berhasil. Al Rajhi Bank pun berdiri pada Inggris kemudian puluhan tahun kemudian jadi bank syariah terbesar pada dunia. Praktis, keberhasilan ini lantas menghasilkan kekayaan Sulaiman meroket. 

Pada 2011 Forbes mencatatkan kekayaannya mencapai US$ 7,7 miliar atau Simbol Rupiah 119 triliun di area masa kini. Dengan nilai tukar segitu, ia masuk pada 100 orang terkaya pada seluruh dunia. Meski bergelimang harta, Sulaiman punya sikap berbeda perihal gaya hidup.

Hidup Merakyat serta Ingin Kembali Miskin

Punya harta banyak triliun, tak menyebabkan Sulaiman berfoya-foya. Dia tak punya mobil mewah atau pesawat pribadi. Untuk berpergian, ia setiap saat menggunakan pesawat kelas ekonomi. 

Alasan Sulaiman bersikap demikian akibat ia tidaklah mau kekayaannya tiada bisa jadi dipertanggungjawabkan di tempat hadapan Allah. Maka, beliau terus-menerus menggunakan harta untuk kegiatan bermanfaat, termasuk kegiatan amal.

Soal amal, Sulaiman selalu totalitas. Sebagai orang yang tersebut pernah terjerat kemiskinan, beliau merasa hidup miskin tak enak. Akibat tak mau orang lain merasakan hal sama, beliau kerap membagikan uang untuk orang yang mana membutuhkan.

Hingga akhirnya puncaknya terjadi pada 2015 lalu. Dia membagikan seluruh harta terhadap rakyat tidaklah mampu dalam Arab Saudi. Dia juga mengalihkan kepemilikan sahamnya di area Al Rajhi bank ke berbagai lembaga amal. 

Akibatnya, semua tindakan ini menimbulkan hartanya lenyap juga cuma menyisakan sedikit untuk dana abadi serta warisan anak. Atas dasar ini, Forbes tak lagi memasukan namanya pada jajaran orang terkaya dunia.

Dia pun mengatakan dirinya telah miskin lalu mengklaim hanya saja punya satu gamis. Meski begitu, Sulaiman identik sekali tiada menyesal. 

“Segala harta milik Allah, serta kita hanyalah orang-orang yang dimaksud diberi amanah (oleh Allah) untuk menjaganya,” ujarnya. 

Artikel Selanjutnya Belajar dari Pria Simbol Rupiah 150 T, Jadi Kaya sebab Lakukan Hal ini

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *