Nasib Perekonomian RI Jika Sri Mulyani Tinggalkan Jokowi

Bisnis15 Dilihat

IDN Bisnis Isu Sri Mulyani mundur dari Menteri Keuangan kian santer lalu berhembus kencang di area internal Kementerian Keuangan.

Jika benar niatan Sri Mulyani untuk mundur dari Kabinet Indonesia Maju pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan ada banyak dampak negatif yang digunakan dapat sekadar muncul terhadap sektor ekonomi RI.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengungkapkan dampak besar apabila Sri Mulyani benar hengkang adalah mengenai kredibilitas sektor ekonomi Indonesia dimata penanam modal asing.

“Jadi begitu menteri Sri Mulyani dan juga menteri-menteri lainnya itu meninggalkan kabinet pasti efeknya akan terjadi shock terhadap kepercayaan investor, kreditur, bahkan konsekuensinya akan susah mendapatkan pinjaman baru atau kerjasama investasi,” kata Bhima ketika dihubungi Suara.com pada hari terakhir pekan (26/1/2024).

Menurut Bhima frontliner perekonomian RI memang benar paling banyak diadakan oleh Sri Mulyani, kerjasama bilateral maupun multilateral terhadap sektor perekonomian paling banyak melibatkan dirinya.

Kepercayaan asing lanjut Bhima juga dapat terlihat dari kredibilitas Sri Mulyani selama ini yang merupakan seseorang teknorat.

“Karena ini perihal bicara kredibilitas, sehingga efeknya ke bursa dimana capaian realisasi investai itu akan sangat berisko tinggi serta yang mana jelas ini sebagai bentuk shock therapy ke Jokowi,” katanya.

Isu mundurnya Sri Mulyani pertama kali diungkapkan oleh ekonom senior Faisal Basri pada sebuah diskusi baru-baru ini. Faisal bahkan mengungkapkan Sri Mulyani adalah menteri Jokowi yang mana paling siap mundur.

“Secara moral, saya dengar Bu Sri Mulyani paling siap untuk mundur. Pramono Anung (sekretaris kabinet) telah gagap. Kan PDI (PDI Perjuangan) belain Jokowi terus, pusing,” klaim Faisal di Political Economic Outlook 2024 di dalam Tebet, Jakarta.

Yah dukungan Jokowi pada konstetasi urusan politik pemilihan 2024 terhadap pasangan Prabowo Subianto juga Gibran Rakabuming Raka menjadi alasan utama.

Tak hanya saja itu Faisal juga mengungkapkan Sri Mulyani kemudian Prabowo juga kerap berbeda pendapat, khususnya untuk permasalahan anggaran.

“Katanya nunggu momentum, mudah-mudahan peluang ini segera insyaallah jadi pemicu yang digunakan dahsyat, seperti Pak Ginandjar (Menteri Koordinator Sektor Ekonomi, Keuangan, serta Industri Ginandjar Kartasasmita) juga 13 menteri lainnya mundur di tempat zaman Pak Harto (Presiden Soeharto),” sambungnya.

Dalam acara inisiatif Closing Bell CNBC Indonesia, Faisal menyatakan kabar para menteri teknokrat untuk mundur merupakan hal yang tersebut logis oleh sebab itu teknokrat orang yang mana mempunyai nilai etik juga moral yang digunakan kuat, baik itu perekonomian seperti Sri Mulyani, maupun nonekonom seperti Basuki.

“Teknokrat itu miliki standar etika tidak ada tertulis. Jadi kalau ia diminta oleh atasannya yang tersebut akhirnya melanggar aturan, beliau bilang ‘sorry nggak mau, bukan bisa, kalau bapak mau terus atau ibu mau terus silakan saya mundur. Itu biasa di area mana-mana,” tuturnya.

Faisal Basri menyampaikan standar nilai yang tersebut mengganggu perasaan para menteri teknokrat ialah terlalu banyaknya intervensi yang mana masuk di tugas dan juga fungsi dia untuk kepentingan urusan politik tertentu. Apalagi yang mana terkait dengan pemakaian anggaran negara.

“Jadi Pak Jokowi ini ingin keliling Indonesia 2024 lebih besar intens, bagikan apalah gitu ya, ‘wah itu anggarannya belum ada dalam APBN’, ‘tapi uangnya ada?’ diusahakan pak,’ ‘laksanakan’. Itu kan kalau dijalankan crime, lantaran setiap sen dari APBN itu harus persetujuan, nggak mampu dijumbalit-jumbalitkan begitu, nah mulai resah teman-teman ini,” beber Faisal.

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *