OJK kembangkan item reksa dana sebagai pilihan penanaman modal

Bisnis27 Dilihat

IDN Bisnis Salah satunya mengkaji perluasan instrumen penanaman modal sebagai underlying reksa dana khususnya yang digunakan berbasis instrumen pangsa uang

Jakarta – Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, kemudian Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi menyatakan pihaknya terus mengembangkan barang reksa dana kemudian alternatif item lainnya, sebagai upaya memberikan pilihan penanaman modal yang mana menarik bagi investor.

“Salah satunya mengkaji perluasan instrumen penanaman modal sebagai underlying reksa dana khususnya yang berbasis instrumen bursa uang,” ujar Inarno pada jawaban tertoreh konferensi pers RDKB OJK Desember 2023 di dalam Jakarta, Kamis.

Ia melanjutkan, OJK juga terbuka dengan usulan pengembangan fasilitas ataupun jenis barang investasi, dengan terus berkoordinasi dengan asosiasi di dalam lapangan usaha pengelolaan penanaman modal lalu lingkungan ekonomi modal.

Lanjutnya, OJK akan terus melakukan harmonisasi ketentuan antar sektor, khususnya bidang perbankan dan juga Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) untuk meningkatkan potensi penanam modal institusi berinvestasi di dalam reksa dana.

“Salah satunya harmonisasi kebijakan dan juga penanaman modal di kaitannya kedepannya dimungkinkan pendirian Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) oleh Manajer Investasi,” ujar Inarno.

OJK melaporkan, berdasarkan statistik terdapat peningkatan total reksa dana yang tersebut efektif sebesar 9,86 persen year on year (yoy) menjadi 156 reksa dana pada 2023, dibandingkan sebanyak 142 reksa dana pada 2022.

Dengan demikian, OJK berkoordinasi dengan asosiasi di tempat lapangan usaha pengelolaan pembangunan ekonomi untuk dapat terus menggiatkan kegiatan sosialisasi demi memperbesar basis pemodal reksa dana, baik pemodal institusi maupun perorangan (ritel).

Dalam kesempatan ini, Inarno menjelaskan tekanan kinerja reksa dana selama tahun 2023 disebabkan, diantaranya kinerja dari underlying reksa dana itu sendiri, seperti saham juga obligasi, maupun dari sisi investor, khususnya keterbatasan penanam modal institusi untuk berinvestasi pada reksa dana.

“Kondisi ini disebabkan dikarenakan volatilitas bursa juga respon penanam modal yang digunakan masih cenderung wait and see berhadapan dengan investasi,” ujar Inarno.

Kemudian, lanjutnya, reksa dana juga bertambah melambat dikarenakan tingginya tingkat suku bunga sejak 2022, dan juga tingginya penyerapan dana rakyat oleh pemerintah melalui obligasi ritel.

“(Selain itu),tidak adanya lagi insentif perpajakan (Peraturan eksekutif Nomor 91 Tahun 2021 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi Yang Diterima)," ujar Inarno.

Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *