otoritas terus pantau nilai pangan demi kendalikan pemuaian

Finansial14 Dilihat

Meskipun nilai sudah ada mulai melandai, pemerintah terus konsisten di mengantisipasi risiko gejolak tarif ke depan

Jakarta – otoritas menyatakan akan terus memantau nilai tukar pangan, walau sekarang pada level melandai demi masih menjaga naiknya harga pada situasi terkendali.

“Meskipun nilai tukar sudah ada mulai melandai, pemerintah terus konsisten di mengantisipasi risiko gejolak tarif ke depan, teristimewa oleh sebab itu tantangan cuaca ekstrem,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu di Jakarta, Senin.

Inflasi harga jual pangan bergejolak (volatile food) pada Mei 2024 mengalami penurunan dibandingkan level pada April 2024, yakni berubah menjadi 8,14 persen dari 9,63 persen.

Febrio meyakini penurunan itu dipengaruhi oleh bermacam kebijakan stabilisasi pangan juga adanya aktivitas panen.

“Berbagai kebijakan terus dilaksanakan, antara lain intervensi harga, stabilisasi pasokan, lalu meningkatkan kelancaran distribusi guna membantu pencapaian target naiknya harga volatile food dalam bawah 5 persen dan juga terkendalinya kenaikan harga hingga di tingkat daerah,” ujar dia.

Secara keseluruhan, pemuaian pada Mei 2024 tercatat sebesar 2,84 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melandai dari pemuaian April 2024 yang tersebut sebesar 3,0 persen (yoy).

Secara bulanan, pada Mei 2024 tercatat deflasi 0,03 persen (month-to-month/mtm) didorong oleh melandainya nilai tukar pangan juga tarif transportasi seiring normalisasi permintaan pasca Idul Fitri 2024.

Inflasi inti meningkat mencapai 1,93 persen (yoy), naik dari bulan berikutnya yang mana tercatat 1,82 persen (yoy), menunjukkan daya beli yang dimaksud masih terjaga. Adapun naiknya harga tarif diatur pemerintah (administered price) cenderung stabil.

Sebelumnya, Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan deflasi bulan Mei 2024 sebesar 0,03 persen berubah menjadi yang tersebut pertama sejak Agustus 2023.

Secara bulanan, terjadi penurunan Ukuran Harga Customer (IHK) dari 106,40 pada April 2024, berubah menjadi 106,37 pada Mei 2024.

Amalia menganggap beras memberikan andil terbesar terhadap deflasi bulanan sebesar 0,15 persen.

“Pada Mei 2024, beras kembali mengalami deflasi sebesar 3,59 persen, serta memberikan andil deflasi sebesar 0,15 persen,” kata beliau di konferensi pers ke Jakarta, Senin.

Menurutnya, kendatipun produksi beras mulai menurun, deflasi beras kembali terjadi akibat ketersediaan stok yang digunakan masih memadai.

Artikel ini disadur dari Pemerintah terus pantau harga pangan demi kendalikan inflasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *