Peneliti BRIN Ungkap Sejumlah Kelemahan Minyak Makan Merah. Apa Saja?

Techno30 Dilihat

IDN Bisnis Jakarta – Peneliti dari Badan Penelitian kemudian Inovasi Nasional (BRIN), Indra Budi Susetyo, masih menemukan kelemahan minyak makan merah yang dimaksud belakangan menjadi perbincangan publik. Bukan tentang zat lalu nutrisi, kekurangan itu terkait dengan warna minyak yang mana merah kemudian cerah. Tampilan yang dimaksud tak biasa diperkirakan dapat mempersulit pemasaran produk-produk anyar tersebut.

“Menjadi tugas yang dimaksud sulit untuk disosialisasikan terhadap masyarakat. Ditambah lagi minyak goreng biasa yang dimaksud telah lama diproduksi itu warnanya jernih,” katanya ketika diwawancarai Tempo melalui aplikasi mobile Zoom pada Rabu, 20 Maret 2024.

Peresmian pabrik minyak makan merah menjadi sorotan beberapa waktu terakhir. Pabrik yang dimaksud berada di dalam Desa Pagar Merbau II, Kota Deli Serdang, Sumatera Utara, itu diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis, 14 Maret lalu.

Pabrik yang digunakan juga terletak di tempat Daerah 1 PT Perkebunan Nusantara I ini digadang-gadang mampu memproduksi minyak makan untuk publik dengan biaya yang mana lebih tinggi diskon dari minyak goreng biasa. Barang itu bahkan diklaim mempunyai nutrisi tambahan unggul melebihi minyak goreng konvensional yang saat ini beredar di area publik.

Menurut Indra, sebagian publik kemungkinan masih akan meragukan minyak makan merah. “Sejak dulu minyak goreng itu dikenal warnanya jernih. Kali ini kok merah. Tentunya nanti akan timbul pertanyaan sejenis ini di area masyarakat,” ucap peneliti dari Pusat Investigasi Agroindustri BRIN tersebut..

Warna merah yang mana cerah, menurut Indra, disebabkan oleh proses pengolahan minyak yang dimaksud tidak ada melalui penyulingan atau bleaching seperti minyak goreng biasa. Nihilnya penyulingan memproduksi warna terang dan juga aroma yang dimaksud kuat dari biji sawit masih terjaga hingga tahap akhir.

Kendati tiada melalui bleaching, Indra berpendapat bahwa nutrisi di tempat minyak merah tambahan tinggi dibandingkan komoditas konvensinal. Bahkan, minyak ini masih mempertahankan senyawa fitonutrien sebagai sumber vitamin A, tokoferol dan juga tokotrienol sebagai vitamin E, juga squalene.

“Ini menjadi pembeda dari minyak goreng biasa. Soalnya minyak yang mana kita konsumsi sekarang itu sudah ada kehilangan sumber vitamin A oleh sebab itu proses pengolahan. Lalu pada tahap akhir baru ditambahkan lagi,” kata Indra.

Proses penyulingan yang tersebut tidak ada lazim menyebabkan minyak makan merah memiliki rasa khas yang digunakan cukup kuat. Kondisi itu juga bisa jadi menjadi permasalahan tersendiri, khususnya bagi publik yang digunakan tidak ada menyukai rasa tersebut.

Meski begitu, perihal flavour kemudian warna minyak makan merah masih dapat diatasi dan juga dikurangi. Yang diperlukan hanya sekali penelitan juga riset yang mana lebih banyak jauh. Menurut Indra, ada banyak tahapan yang mampu dipakai untuk memproduksi minyak makan merah ini. Pastinya ada tahapan yang dimaksud mampu dipakai untuk menurunkan rasa alami tadi.

“Butuh studi-studi terbaru untuk minyak makan merah ini,” tuturnya. Dia mengimbuhkan, penelitian terkait pengolahan sawit untuk minyak makan sudah ada ada sejak 30 tahun yang mana lalu.

Pilihan Editor: Publikasi Ilmiah Website Gunung Padang Dicabut dari Jurnal, Hal ini Alasannya

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *