Pengamat: Presiden terpilih harus akselerasi acara transisi energi

Market23 Dilihat

IDN Bisnis Siapa pun presiden terpilih yang digunakan menggantikan Jokowi, harus melanjutkan kemudian mengakselerasi kegiatan transisi energi

Jakarta –

Pengamat sektor ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menyebutkan presiden yang terpilih pada Pilpres 2024 harus melanjutkan juga mengakselerasi inisiatif transisi energi.

 

Pasalnya, menurut Fahmy, inisiatif transisi energi di dalam era Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum mencapai target-target yang tersebut ditetapkan.
 
"Siapa pun presiden terpilih yang digunakan menggantikan Jokowi, harus melanjutkan serta mengakselerasi inisiatif transisi energi. Target yang harus dicapai pada kegiatan transisi energi itu adalah pencapaian net zero emission pada 2060," katanya pada keterangan pada Jakarta, Senin.

 

Fahmy menyebutkan bauran energi baru terbarukan (EBT) pada akhir 2023 baru mencapai 12,8 persen, masih cukup berjauhan dari target sebesar 23 persen pada 2025. Terlebih, pada 2030 target meningkat menjadi sebesar 44 persen.

 

Ia mengungkapkan PT Pertamina lalu PT Organisasi Listrik Negara (PLN) sesungguhnya telah melakukan berbagai upaya untuk menyokong transisi energi.

 

PLN, misalnya, cukup berhasil pada pengembangan EBT dengan sudah diselesaikannya 28 pembangkit EBT baru. Inisiatif itu dalam antaranya acara dedieselisasi dengan perkembangan jaringan transmisi juga jaringan distribusi hingga pengembangan hidrogen hijau pada tahun 2023.

 

"Salah satu upaya transisi energi yang mana paling fenomenal yakni diresmikannya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Cirata dengan kapasitas 192 megawatt peak (MWp). Namun, acara pensiun dini PLTU batu bara belum diselesaikan lantaran kesulitan penyediaan dana," katanya.

 

Sementara itu, Pertamina sejak beberapa tahun lalu sudah ada mengusahakan biodiesel, yang mana merupakan percampuran solar dengan minyak sawit.

 

Program yang disebutkan dimulai dengan B20, yang meningkat ke B35, serta naik menjadi B40. Namun, kegiatan yang dimaksud kemudian berhenti lantaran ENI, mitra usaha dari Italia, menghentikan kerja sejenis dengan Pertamina.

 

"Pengembangan biodiesel selain tidak ada dapat dicapai, kegiatan EBT berbasis sawit juga berpotensi bertabrakan dengan kegiatan pangan untuk menciptakan minyak goreng," imbuhnya.

 

Demikian juga dengan kegiatan gasifikasi Pertamina, yang mana mengolah batu bara menjadi gas, juga mengalami kegagalan setelahnya mitra bidang usaha dari Amerika Serikat hengkang dari Indonesia.

 

Oleh lantaran itu, menurut Fahmy, penting untuk melanjutkan dan juga mengakselerasi inisiatif transisi energi demi menunjang target netral karbon pada 2060.

 

 

 

 

 

 

Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *