Banyak hektare sawah di tempat Mukomuko terbengkalai 

Bisnis39 Dilihat

IDN Bisnis Setelah kejadian banjir tersebut, sampai sekarang sawah yang dimaksud tidak ada mendapatkan air dari irigasi DI Pondok Baru

Mukomuko –

Sekitar 120 hektare sawah di tempat Desa Pondok Baru, Kabupeten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, sejak enam tahun terakhir terbengkalai lantaran ketiadaan air irigasi.

 

 

Kepala Desa Pondok Baru, Kecamatan Selagan Raya Suswandi pada waktu ditemui di area rumahnya, Jumat, mengungkapkan sekitar 120 hektare sawah dalam wilayah itu terbengkalai sejak pintu air Daerah Irigasi (DI) Pondok Baru mengalami rusak akibat diterjang banjir pada 2016-2017.
 

 

"Setelah kejadian banjir tersebut, sampai sekarang sawah yang dimaksud tak mendapatkan air dari irigasi DI Pondok Baru," ujarnya.
 

 

Desa Pondok Baru, Kecamatan Selagan Raya memiliki 172 kepala keluarga kemudian 700 jiwa. Desa ini berbatasan segera dengan hutan produksi serta Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS).
 

 

Ia mengatakan, desanya hampir setiap tahun mengusulkan pembangunan pintu air yang dimaksud rusak untuk instansi terkait eksekutif Daerah Mukomuko, namun sampai sekarang usulan yang disebutkan belum diakomodir.
 

 

Padahal, katanya, konstruksi pintu air yang mana rusak akibat banjir yang disebutkan menjadi prioritas utama desanya pada setiap musyawarah rencana desa, kecamatan, hingga kabupaten.
 

 

Ia mengatakan, akibat tidaklah ada kepastian lahan persawahan yang dimaksud mendapatkan pengairan dari irigasi sehingga pemilik sawah itu terpaksa menginvestasikan flora sawit pada sawahnya.
 

 

"Warga awalnya menyetorkan palawija di tempat sawahnya, lalu pada 2022 warga menginvestasikan sawit di dalam sawahnya itu, kemudian sampai sekarang dari seluas 120 hektare sawah di dalam wilayah ini, hampir sebagian ditanami sawit," ujarnya.
 

 

Ia mengatakan, sebenarnya warga di tempat wilayah ini lebih banyak memilih bersawah dibandingkan sawit. Karena tidaklah ada pilihan lain sehingga warga menyetorkan vegetasi keras.
 

 

Sementara itu, ia menyebutkan, pada waktu ini masih ada sekitar 110 hektare sawah dalam desa ini yang digunakan masih berfungsi juga mendapatkan air dari irigasi.
 

 

Plt Kepala Dinas Pertanian Kota Mukomuko Fitriani Ilyas mengatakan, pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan terhadap petani yang digunakan mengalihfungsikan lahan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit.
 

 

Ia menjelaskan, salah satu dasar hukum tentang larangan melakukan alih fungsi lahan pertanian diatur pada Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 lalu peraturan lainnya.
 

 

"Dalam surat imbauan itu bahwa alih fungsi lahan itu tidaklah dibenarkan, dan juga desa harus paham itu, selanjutnya desa menyampaikan terhadap kelompok tani," ujarnya.
 

 

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *