Rupiah turun dipengaruhi sentimen “risk-off” dari Amerika Serikat dan juga Tiongkok

Finansial14 Dilihat

IDN Bisnis Indikator manufaktur Negeri Paman Sam yang digunakan kuat dan juga bursa tenaga kerja yang tersebut lebih besar ketat menurunkan kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut awal

Jakarta –

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam awal pekan dibuka turun dipengaruhi oleh sentimen risk-off (menghindari risiko) dari Amerika Serikat (AS) lalu Tiongkok.
 
Pada awal perdagangan Hari Senin pagi, rupiah dibuka tergelincir 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp15.790 per dolar Negeri Paman Sam dari sebelumnya sebesar Rp15.783 per dolar AS.
 
"Indikator manufaktur Negeri Paman Sam yang digunakan kuat juga pangsa tenaga kerja yang mana lebih besar ketat menurunkan kemungkinan penurunan suku bunga lebih tinggi awal, meningkatkan sentimen risk-off pada pasar," kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede untuk ANTARA di tempat Jakarta, Senin.
 
Sementara itu, bank sentral Tiongkok atau People's Bank of China (PBoC) menurunkan referensi harian yuan terbesar sejak Februari 2024 yang dimaksud menyiratkan bahwa otoritas Tiongkok membiarkan yuan terdepresiasi untuk menggalang perekonomian.
 
Lebih lanjut Josua menuturkan dolar Amerika Serikat menguat terhadap mata uang global, khususnya oleh sebab itu sinyal dovish (pro pasar) dari berbagai bank sentral global, disertai oleh indikator perekonomian Negeri Paman Sam yang mana solid.
 
Indeks dolar Amerika Serikat menguat didorong oleh pernyataan dovish dari Bank of England (BoE) dan juga European Central Bank (ECB). Gubernur BoE, Andrew Bailey, menyatakan bahwa penurunan suku bunga kebijakan akan menjadi topik utama di pertemuan BoE mendatang, menegaskan sinyal bahwa suku bunga kebijakan BoE sudah pernah mencapai puncaknya.
 
Salah satu anggota ECB, Joachim Nagel, memperkirakan ECB akan mulai memangkas suku bunga bahkan sebelum liburan musim panas, menyiratkan penurunan suku bunga tambahan awal pada tahun 2024.
 
Apresiasi dolar Amerika Serikat juga dipengaruhi oleh pernyataan salah satu pejabat The Fed, Raphael Bostic. Bostic menyatakan The Fed belaka bisa saja memangkas Fed Funds Rate satu kali pada tahun 2024 lantaran perasaan khawatir melambatnya kemajuan disinflasi.
 
Sentimen yang disebutkan mengimbangi dampak pengumuman rapat FOMC yang mana menandakan penurunan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun ini.
 
Josua memperkirakan rupiah bergerak di area kisaran Rp15.750 per dolar Negeri Paman Sam sampai dengan Rp15.850 per dolar AS.

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *