Saham BBRI, BBCA, BMRI Turun Pasca Kenaikan BI Rate, Cek Rekomendasi Analis Berikut

Finansial18 Dilihat

JAKARTA. Saham emiten bank jumbo seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan juga PT Bank Rakyat Indonesi (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kompak turun seiring dengan naiknya suku bunga acuan atau BI Rate pada level 6,25%.

Berdasarkan data RTI Business, pada penutupan perdagangan Kamis (25/4) nilai saham BBCA turun 1,76% ke level Rupiah 9.775, BMRI ditutup di dalam level Simbol Rupiah 6.950 turun 1,42%. Serupa, BBRI mengalami pelemahan nilai saham 1,44% ke level Rp5.150 Selanjutnya. Jebloknya nilai tukar saham bank-bank jumbo juga muncul pada berada dalam tren fluktuasi nilai tukar rupiah.

Kedua di dalam antara emiten bank jumbo yakni, BBRI lalu BBCA memang sebenarnya telah terjadi merilis laporan keuangan pada kuartal I-2024. BCA sudah pernah mencatatkan kinerja positif pada tiga bulan pertama 2024 dengan laba naik 11,7% secara tahunan (year on year/YoY) berubah jadi Simbol Rupiah 12,9 triliun.

Adapun secara konsolidasi, BRI telah lama membukukan laba bersih periode berjalan Simbol Rupiah 15,98 triliun, bertambah 2,69% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2024, dari dalam setahun sebelumnya sebesar Rp15,56 triliun. Namun, tampaknya kinerja moncer kedua bank yang disebutkan tak sejalan dengan kinerja sahamnya.

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki menyimpulkan saham dari BBRI juga BBCA menarik, namun BBCA punya ruang likuiditas yang mana lebih besar baik dengan dengan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) masih ke 71% an melebihi BBRI pada menghadapi 82%, bahkan BBCA terpencil ke bawah rata-rata sektor perbankan ke kisaran 84% an.

“BBRI accumulate buy selama kuat pada menghadapi Mata Uang Rupiah 5.000- Rupiah 5.050 dengan target fundamental dalam Rupiah 6.200, lalu secara tehnikal kemungkinan penguatan BBCA masih kemungkinan lanjut ke Rupiah 10.250 jangka menengah,” katanya.

Sementara Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, BBRI lebih lanjut mengandalkan sektor UMKM di memberikan kontribusi pada pertumbuhan kredit ke depan, sementara BBCA lebih lanjut mengandalkan korporasi maupun individu untuk menunjang pertumbuhan kredit. 

“Dari sisi Non Performing Loan BBRI di antaranya yang mana relatif tinggi dibandingkan dengan BBCA tapi terlepas daripada itu sejauh itu mitigasi telah dilakukan dilaksanakan dengan baik, kemudian dengan adanya mitigasi ini setidaknya NPL masih bisa saja ditekan di dalam sekitar 3%,” jelasnya.

Di sisi lain, penerapan suku bunga BI juga dinilai realitif masih belum memberikan dampak negatif terhadap perhambatan peningkatan kredit lantaran sejauh ini perkembangan kredit masih double digit, serta selama perekonomian masih resilien pertumbuhan kredit masih bisa jadi terjaga kedepan.

Nafan merekomendasikan BBCA accumulate dengan trget tarif Mata Uang Rupiah 10.800 sementara BBRI accumulate dengan target nilai Mata Uang Rupiah 6.675.



Artikel ini disadur dari Saham BBRI, BBCA, BMRI Turun Pasca Kenaikan BI Rate, Cek Rekomendasi Analis Berikut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *