Sejumlah Bank Masih Selektif Kucurkan Kredit ke Bagian Konstruksi

Finansial45 Dilihat

IDN Bisnis Penyaluran kredit proses pembuatan perbankan hingga pada waktu ini masih belum berjalan dengan mulus. Sejumlah perbankan masih selektif di menyalurkan kredit pada sektor ini. 

Di sisi lain, pemerintah juga terus memacu pertumbuhan pada sektor ini agar kredit perbankan mengalir deras khususnya pada perkembangan infrastruktur.

Jika dilihat dari laporan Bank Indonesia (BI), kredit proyek konstruksi tercatat berkembang tipis 0,1% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Simbol Rupiah 282,1 triliun pada Januari 2024. 

Kendati meningkat tipis, tren dari kredit proses pembuatan itu terlihat positif setelahnya tiga bulan sebelumnya yakni pada Oktober-Desember 2023 mencatatkan peningkatan negatif, yakni -1,0%, -0,3%, serta -0,2%.

Hal ini juga nampak pada realisasi penyaluran kredit proses pembuatan di area beberapa bank besar seperti PT Bank Tabungan Negara (BTN) yang pada tahun 2023 lalu outstanding kredit proses pembuatan BTN semata-mata mencapai Mata Uang Rupiah 18,8 triliun. Jumlah yang disebutkan berkurang 10,6% dibandingkan outstanding 2022 yang mana sebesar Simbol Rupiah 21 triliun.

Ramon Armando, Corporate Secretary BTN menjelaskan, penurunan yang disebutkan disebabkan BTN selektif pada pemberian kredit konstruksi. 

“Kami semata-mata memberikan kredit proyek konstruksi ke sektor proyek perumahan,” kata Ramon untuk kontan.co.id belum lama ini.

Ramon menuturkan, dalam Bank BTN, kredit pembangunan yang tersebut disalurkan terkait dengan proyek perumahan yang mana bekerja sebanding dengan perseroan. Saat ini mayoritas penyaluran KPR perseroan adalah KPR Subsidi sehingga kredit proses pembuatan lebih tinggi diarahkan ke proyek perumahan KPR Subsidi.

Saat ini pihaknya juga masih menghindari kredit proyek konstruksi ke konstruksi apartemen.

Dari total kredit secara keseluruhan, kontribusi kredit proses pembuatan disebut Ramon masih sangat kecil sekitar 5-6% saja. Tahun 2023 total kredit BTN sebesar Rupiah 333,6 triliun. 

Sementara PT Bank Central Asia (BCA) mencatat, sektor proyek konstruksi menyumbang 4,2% dari seluruh portofolio kredit BCA. Hingga Desember 2023, total kredit BCA naik 13,9% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Mata Uang Rupiah 810,4 triliun.

“Selaras dengan prospek perekonomian Indonesia yang mana positif dan juga likuiditas yang mana memadai, BCA senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian pada menyalurkan kredit,” ungkap Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn.  

Di sisi lain, BCA mencatat rasio kredit bermasalah (NPL) di dalam sektor proses pembuatan masih terjaga sehingga secara keseluruhan, rasio kredit bermasalah (NPL) BCA tercatat sebesar 1,9% di area Desember 2023.

“Ditopang oleh prospek pertumbuhan perekonomian yang digunakan positif juga likuiditas yang mana solid, BCA optimistis pada penyaluran kredit dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, sehingga kualitas pinjaman masih terjaga. BCA juga secara berkala melakukan monitoring terhadap kualitas kredit di tempat setiap segmen,” tandas Hera.



Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *