Simak! Ini adalah Ketentuan Lengkap Pengeras Suara dalam Masjid

Syariah17 Dilihat

IDN Bisnis

Jakarta – Kementerian Agama menegaskan pihaknya tidaklah melarang pengaplikasian pengeras pengumuman pada beragam aktivitas keagamaan, baik di dalam masjid kemudian musalla.

Hal ini terkait dengan penegasan Surat Edaran No 05 tahun 2022 tentang Pedoman Pemakaian Pengeras Suara di area Masjid serta Musala. Edaran ini sebenarnya sudah pernah terbit pada 18 Februari 2022.

Juru bicara Kementerian Agama Anna Hasbie menegaskan tak ada satu poin pun di edaran yang disebutkan yang digunakan melarang pengaplikasian pengeras pendapat di beragam aktivitas keagamaan, baik pada masjid dan juga musalla. Menurut Anna, edaran ini mengatur pemanfaatan pengeras ucapan pada lalu pengeras pengumuman luar.

“Tidak ada larangan pengaplikasian pengeras pengumuman di area masjid juga musalla. Syiar Islam harus didukung. Kemenag terbitkan edaran untuk mengatur penyelenggaraan pengeras kata-kata di serta pengeras ucapan luar,” tegas Anna Hasbie dikutipkan dari pernyataan resmi Kemenag, Mingguan (16/3/2024).

Penegasan ini kembali disampaikan Anna Hasbie mengingat masih ada beberapa pihak yang dimaksud belum memahami substansi edaran tersebut. Sayangnya, pihak yang dimaksud lantas menyampaikan ke umum bahwa eksekutif melarang penyelenggaraan pengeras pendapat di aktivitas keagamaan di area masjid kemudian musalla. Padahal, sejenis sekali bukan ada larangan pemanfaatan pengeras suara. Apalagi, masih ada yang dimaksud mengumumkan bahwa azan dengan pengeras pernyataan juga dilarang.

“Masih ada yang gagal paham terhadap edaran SE 05 tahun 2022, lalu mengatakan ada larangan pengaplikasian pengeras suara. Kami harap agar edaran itu dibaca dengan seksama. Jelas tidaklah ada larangan, yang dimaksud ada cuma pengaturan pengeras suara,” sebut Anna.

“Bahkan, edaran ini secara tegas menyebutkan bahwa pembacaan Al-Quran sebelum azan dan juga juga ketika azan, dapat menggunakan pengeras ucapan luar,” sambungnya.

Anna Hasbie menghadirkan penduduk untuk membaca dengan teliti juga memahami edaran Pedoman Pemanfaatan Pengeras Suara di area Masjid lalu Musala. Edaran ini disusun semata untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan juga kenyamanan bersatu pada syiar dalam berada dalam publik yang beragam, baik agama, keyakinan, latar belakang, lalu lainnya. Untuk itu, diatur juga bahwa pendapat yang tersebut dipancarkan melalui pengeras ucapan perlu memperhatikan kualitas serta kelayakannya, kata-kata bagus atau tiada sumbang, juga pelafalannya juga baik kemudian benar.

Anna menegaskan ketentuan ini juga didukung banyak pihak, termasuk NU, Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia, serta Komisi VIII DPR.

“Ini juga tidak edaran baru, sudah ada ada sejak 1978 pada bentuk Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Warga Islam Nomor Kep/D/101/1978. Di situ juga diatur bahwa ketika Ramadan, siang dan juga waktu malam hari, bacaan Al-Qur’an menggunakan pengeras kata-kata ke dalam,” jelasnya.

Aturan di Negara Muslim

Pengaturan penyelenggaraan pengeras pengumuman di area masjid atau musalla, kata Anna, tak cuma ada pada Indonesia. Peraturan sejenis juga diterapkan pada beberapa negara, antara lain Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Malaysia, Uni Emirat Arab, Turki, dan juga Suriah.

Arab Saudi, misalnya, menerbitkan edaran agar jumlah azan kemudian iqamah tidaklah melebihi sepertiga dari besar penuh pengeras suara. Mesir sejak 2018 juga memberlakukan pengaturan pengeras pernyataan di dalam masjid lantaran dinilai terlalu kencang.

Sebagaimana Indonesia, Bahrain juga menerbitkan imbauan pemanfaatan pengeras suara. Untuk azan, menggunakan pengeras suara. Sedangkan pelaksanaan beragam ibadah Ramadan menggunakan pengeras pendapat dalam.

Di Selangor, Malaysia, azan dan juga bacaan Al-Quran menggunakan pengeras pengumuman luar. Sedang ceramah serta pembelajaran dibatasi belaka pada lingkungan masjid serta musalla. Sementara pada Uni Emirat Arab (UEA), ada imbauan agar besar pengeras ucapan azan masjid tidak ada melebihi 85 desibel, lebih tinggi kecil dari Indonesia (100 desibel).

Di Turki, pemanfaatan pengeras ucapan diperbolehkan ketika azan kemudian khutbah Salat Jumat. Volume azan dan juga khutbah masjid juga tak terlalu keras. Di Suriah, ada juga aturan bahwa pengaplikasian pengeras pengumuman luar hanya saja untuk azan. Sementara Khutbah hari terakhir pekan atau pengajian, menggunakan pengeras pengumuman dalam.

Berikut Tata Cara Pemakaian Pengeras Suara sesuai edaran No SE 05 tahun 2022

a. Waktu Salat:

1) Subuh:
a) sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur’an atau sholawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar di jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) menit; dan
b) pelaksanaan Salat Subuh, zikir, doa, juga Kuliah Subuh menggunakan Pengeras Suara Dalam.

2) Zuhur, Asar, Magrib, juga Isya:
a) sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur’an atau sholawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar pada jangka waktu paling lama 5 (lima) menit; dan
b) sesudah azan dikumandangkan, yang mana digunakan Pengeras Suara Dalam.

3) Jumat:
a) sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur’an atau sholawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar di jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) menit; dan
b) penyampaian pengumuman mengenai petugas Jumat, hasil infak sedekah, pelaksanaan Khutbah Jumat, salat, zikir, lalu doa, menggunakan Pengeras Suara Dalam.

b. Pengumandangan azan menggunakan Pengeras Suara Luar

c. Pertemuan Syiar Ramadan, gema takbir Idul Fitri, Idul Adha, dan juga Upacara Hari Besar Islam:

1) pemakaian pengeras pendapat di dalam bulan Ramadan baik pada pelaksanaan Salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, serta tadarrus Al-Qur’an menggunakan Pengeras Suara Dalam;

2) takbir pada tanggal 1 Syawal/10 Zulhijjah di tempat masjid/musalla dapat dijalankan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar sampai dengan pukul 22.00 waktu setempat lalu dapat dilanjutkan dengan Pengeras Suara Dalam.

3) pelaksanaan Salat Idul Fitri lalu Idul Adha dapat diadakan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar;

4) takbir Idul Adha dalam hari Tasyrik pada tanggal 11 sampai dengan 13 Zulhijjah dapat dikumandangkan pasca pelaksanaan Salat Rawatib secara berturut-turut dengan menggunakan Pengeras Suara Dalam; dan

5) Upacara Peringatan Hari Besar Islam atau pengajian menggunakan Pengeras Suara Dalam, kecuali apabila pengunjung tablig melimpah ke luar arena masjid/musalla dapat menggunakan Pengeras Suara Luar.

Artikel Selanjutnya Biaya Haji Diusul Rp93,4 Juta, Pesawat-Hotel Paling Mahal

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *