Studi sebut manusia berkendara lebih lanjut baik jika dibandingkan teknologi otomatis

Ragam61 Dilihat

Ibukota Indonesia (ANTARA) – Sebuah studi yang digunakan diterbitkan Nature Communications menemukan bahwa manusia tambahan kecil kemungkinannya untuk mengalami kecelakaan pada waktu berbelok atau di situasi cahaya redup dibandingkan teknologi otomatis.

Dilaporkan Motor1 pada Awal Minggu (24/6), studi yang dimaksud menganalisis lebih banyak dari 37.000 tabrakan kendaraan kemudian menemukan bahwa kendaraan yang menggunakan sistem otomatis mengalami kecelakaan lima kali lebih besar banyak pada waktu matahari terbit atau terbenam.

Bahkan ke tikungan, rasionya dua kali lebih besar besar dibandingkan kendaraan yang dimaksud dikemudikan manusia.

Sekitar 35.000 kecelakaan yang mana melibatkan pengemudi manusia kemudian 2.100 kecelakaan dengan sistem otomatis terlibat berubah menjadi dasar data.

Baca juga: Delameta kembangkan teknologi keselamatan transportasi V2X

Baca juga: Geely terbangkan satelit berikan kenyamanan berkendara secara otonom

Berkenaan dengan situasi cahaya redup, penelitian ini menyoroti keterbatasan kamera kemudian sensor juga ketidakmampuan beradaptasi dengan kondisi.

Misalnya, bayangan di dalam pagi hari atau ke penghujung hari dapat disalahartikan sebagai objek.

Cahaya yang dimaksud berfluktuasi juga dapat bermetamorfosis menjadi masalah, mendatangkan malapetaka pada algoritma juga menyebabkan kebingungan di sistem. Sebaliknya, objek di bayangan mungkin saja tak terungkap sejenis sekali.

Hal ini didukung oleh uji tabrak yang digunakan secara tegas menunjukkan kendaraan terlambat mengerem atau gagal berhenti sejenis sekali untuk simulasi pejalan kaki atau hewan.

Kesadaran situasional disebut-sebut sebagai titik hambatan yang tersebut kemungkinan besar berjalan pada sistem otomatis pada waktu ini. Sensor lalu kamera mungkin saja bukan mendeteksi semua hambatan di dalam tempat kejadian dinamis seperti persimpangan, namun tambahan dari itu.

Studi yang disebutkan menunjukkan bahwa sistem yang ada pada waktu ini umumnya “melihat” area yang relatif dekat dengan kendaraan. Jika manusia kemungkinan besar mengamati kabut tebal di jarak setengah mil lalu mengambil tindakan pencegahan, mobil yang mana dikendalikan secara otonom akan terus melaju.

Ada bukti yang tersebut menyokong hal ini lewat penelitian tindakan yang dimaksud diambil sebelum tabrakan, sebagian besar kendaraan di dalam bawah kendali otonom melaju lurus serta dengan kecepatan konstan sebelum manuver darurat dilaksanakan.

Sementara mobil yang dikendarai manusia menunjukkan lebih tinggi berbagai perkara melambat kemudian berpindah jalur sebelum terbentuk tabrakan.

Studi ini memperhitungkan beberapa orang besar variabel untuk sampai pada kesimpulan ini, namun kesimpulannya jelas bahwa sistem bantuan pengemudi yang ada sekarang hanyalah bantuan.

Otomatisasi bekerja dengan baik pada jalur lurus, namun lebih lanjut sejumlah data harus dikumpulkan juga dipelajari sebelum pengemudian Level 4 yang dimaksud tanpa perlu memegang kemudi lalu fokus menyetir dapat menjadi kenyataan.

Baca juga: Subaru incar jualan mobil otonom level 2 untuk jalan biasa

Baca juga: Honda Legend, sedan berfitur otonom level 3 pertama dalam dunia

Baca juga: Tesla bereskan rintangan untuk kenalkan sistem kemudi otonom di dalam China

Artikel ini disadur dari Studi sebut manusia berkendara lebih baik dibanding teknologi otomatis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *