Suku bunga The Fed diprediksi masih terhambat besarnya defisit Amerika Serikat

Bursa11 Dilihat

IDN Bisnis Ibukota – Penurunan suku bunga Federal Reserve atau The Fed diprediksi masih terhambat oleh besarnya defisit Amerika Serikat (AS).

Hal itu diungkapkan oleh ekonom senior Chatib Basri. Dia berpendapat meskipun ada prospek The Fed menurunkan suku bunga dua sampai tiga kali lipat pada paruh kedua 2024, namun defisit Amerika Serikat masih menjadi tantangan.

“Tantangannya adalah defisit di tempat Amerika Serikat masih besar. Jadi, akan ada keperluan bond issuance yang tersebut cukup besar,” kata Chatib Basri ketika ditemui pada kegiatan IIF’s Anniversary Dialogue bertema “The Dynamics of Sustainable Infrastructure Financing and Its Roles in Achieving Food Security” di tempat Jakarta, Senin.

Di samping itu, ia menilai potensi resesi Negeri Paman Sam mengecil pada tahun ini. Hal itu disebabkan beliau mengawasi adanya peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi baik dalam AS.

Sementara, bila kemungkinan resesi Negeri Paman Sam mengecil, maka skema yang digunakan mungkin saja terjadi ialah makin sedikitnya orang-orang yang mana memegang obligasi.

“Permintaan bond akan naik, suplai naik, maka harga jual akan jatuh dan juga imbal hasil (yield) akan naik. Hal ini yang digunakan menimbulkan The Fed harus hati-hati pada menurunkan tingkat suku bunga,” ujar dia.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan suku bunga kebijakan Amerika Serikat (AS) atau Fed Funds Rate (FFR) turun sebanyak tiga kali hingga mencapai 75 basis poin pada 2024, dimulai pada paruh kedua 2024.

Proyeksi yang disebutkan didasarkan melawan penilaian terhadap kondisi ekonomi AS, bursa tenaga kerja serta kenaikan harga Angka Harga Belanja Personal (PCE) inti AS, juga pernyataan-pernyataan resmi dari Federal Open Market Committee (FOMC).

Perry menuturkan bursa mengantisipasi kemungkinan FFR turun lebih lanjut cepat dalam penghujung triwulan II-2024. Sebagian memperkirakan tingkat penurunan FFR yang digunakan lebih tinggi tinggi, yakni bisa jadi empat kali dengan total penurunan 100 basis poin pada 2024, bahkan lebih tinggi besar.

Karena masih ada ketidakpastian waktu lalu besaran penurunan suku bunga FFR, maka terdapat volatilitas sentimen bursa sehingga rupiah naik turun.

Ia menyatakan tren pergerakan nilai tukar rupiah ke depan akan menguat mengikuti semakin meredanya kondisi gejolak global, semakin besarnya portfolio inflows dan juga konsistensi kebijakan Bank Indonesia, yakni kebijakan moneter yang tersebut pro-stability, juga kebijakan makroprudensial juga sistem pembayaran yang tersebut tetap memperlihatkan pro-growth.

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *