Terungkap! Hal ini Alasan Tuyul Tidak Curi Uang di area Bank

Entrepreneur14 Dilihat

IDN Bisnis

Jakarta – Siapa rakyat Indonesia yang mana tak mengenal sosok tuyul? Tuyul adalah makhluk halus terkenal di area Tanah Air yang mana konon berwujud seperti anak kecil, berkepala botak, juga belaka menggunakan cawat.┬áDia dipelihara oleh seseorang untuk mencuri uang dari rumah ke rumah.

Sosok makhluk pada mitologi Jawa ini ternyata tiada hanya saja mencuri uang dari rumah ke rumah. Budayawan, Suwardi Endraswara di Bumi Hantu Orang Jawa (2004) menyatakan bahwa ternyata tuyul juga mencuri barang lalu surat-surat berharga lainnya demi meningkatkan pundi-pundi kekayaan majikannya.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya terkait alasan mengapa tuyul cuma mencuri dari rumah ke rumah? Apakah dapat tuyul melakukan pencurian ke bank yang menyimpan berbagai sekali uang? Atau minimal melakukan pencurian menghadapi nilai e-money?

Hingga kini, belum ada tindakan hukum bank yang dimaksud kehilangan uang akibat dicuri oleh makhluk halus bertubuh anak kecil tersebut. Jika ditelusuri melalui internet, ada banyak jawaban dari pertanyaan ini.

Ada yang digunakan menyatakan bahwa tuyul takut terhadap logam oleh sebab itu uang di area bank tersimpan di tempat brankas. Selain itu, ada juga yang tersebut mengumumkan apabila di dalam bank terdapat “penjaga” sebagai makhluk halus lain yang ditakuti tuyul.

Jawaban-jawaban itu hanya sekali sebatas dugaan dari hal yang dimaksud memang sebenarnya tidak ada logis. Namun, terlepas dari jawaban berhadapan dengan pertanyaan tersebut, pasti ada alasan sains di area balik cerita mistis tuyul. Alasan inilah yang digunakan dapat mematahkan keberadaan tuyul dan juga alasan kenapa tuyul tidak ada mencuri uang ke bank atau mengambil jumlah e-money seseorang.

Untuk memahami penjelasannya, kita harus mundur ke tahun 1870. Pada pada waktu itu itu, Belanda meresmikan kebijakan pintu terbuka atau liberalisasi kegiatan ekonomi menggantikan sistem tanam paksa. Sekilas inovasi ini menyebabkan angin segar sebab dinilai mampu menyejahterakan masyarakat. Namun, kenyataannya ternyata tidak ada seperti itu.

Menurut Jan Luiten van Zanden serta Daan Marks pada Perekonomian Indonesia 1800-2010 (2012), liberalisasi dunia usaha dinilai melahirkan rezim kolonial baru yang dimaksud pada dalamnya terjadi pengambilalihan perkebunan rakyat untuk diubah menjadi perkebunan besar juga pabrik gula.

Situasi ini kemudian menimbulkan keberadaan penduduk terpuruk, khususnya para petani kecil di tempat Jawa yang mana semakin terperosok ke pada jurang kemiskinan. Sebab, merek tak lagi memiliki kuasa menghadapi lahan perkebunan.

Di sisi lain ada juga warga yang digunakan sejahtera dari sistem ini. Mereka adalah pedagang, baik dari kalangan pribumi atau Tionghoa, yang mana di sekejap menjadi orang kaya baru. Kenaikan pesat kekayaan merekan lantas memunculkan keheranan bagi para petani yang dimaksud kian melarat itu. Para petani bingung darimana asal-usul kekayaan mereka

Sebagai informasi, pada ketika itu para petani hidup apa adanya. Menurut Ong Hok Ham di Wahyu yang digunakan Hilang Negeri Yang Guncang (2019), mereka menganut sistem subsisten, yakni bertani sekedar cukup untuk konsumsi sendiri. Jika ada hasil tani lebih banyak maka akan diberi sebagai upeti atau dijual.

Akibatnya, merekan punya pandangan bahwa pemupukan kekayaan adalah proses yang mana terbuka. Artinya, tiap orang harus menyeberangi proses kemudian usaha jelas yang dapat dilihat oleh mata orang lain.

Namun, mereka itu tidak ada mengamati kerja keras dari orang kaya baru itu. Terlebih, merek bukan dapat membuktikan selama usul kekayaannya apabila ditanya para petani. Alhasil, timbul rasa iri serta kecemburuan oleh petani ke peniaga akibat dapat mendapat harta sebanyak itu.

Terlebih, menurut George Quinn di An Excursion to Java’s Get Rich Quck Tree (2009), para petani setiap saat beranggapan datangnya kekayaan harus dipertanggungjawabkan. Maka dari itu, ketika orang kaya gagal mempertanggungjawabkan dengan syarat kekayaannya, para petani iri lalu menuduh uang itu hasil pencurian.

Masyarakat yang tersebut kental dengan pandangan mistik memproduksi para petani memandang pencurian itu adalah kerja serupa antara orang kaya serta makhluk supranatural lalu kasat mata, salah satunya tuyul.

Jadi, para petani yang mana iri selalu menuduh orang kaya baru menggunakan cara haram di memperoleh kekayaan. Akibat tuduhan ini, Ong Hok Ham di buku berjudul Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong (2002) menyebutkan bahwa para petani menghasilkan tukang jualan lalu entrepreneur sukses kehilangan status di area masyarakat. Mereka dianggap “hina” akibat memupuk kekayaan dari cara haram, yakni bersekutu dengan setan. Padahal, ini semua terjadi akibat pembaharuan kebijakan kolonial Belanda yang tersebut menyebabkan entrepreneur tertimpa durian runtuh.

Kebencian para petani terhadap orang yang dimaksud kaya mendadak tiada semata-mata berdampak pada hubungan personal semata. Transaksi barang oleh orang kaya pun turut berubah. Orang kaya kemudian cenderung membeli barang yang mana tak menunjukkan kekayaan mereka itu sesungguhnya, seperti emas atau barang-barang mewah. Apabila mereka membeli tanah atau rumah maka mereka akan dituduh memelihara setan atau tuyul oleh petani.

Tuduhan tak berdasar ini menghasilkan popularitas tokoh tuyul sebagai subjek mistis di hal kekayaan semakin meningkat dan juga terus populer sampai ketika ini dalam Indonesia. Terlebih, publik Indonesia yang digunakan selama bertahun-tahun hidup secara agraris semakin melanggengkan imajinasi dan juga tuduhan menggunakan tuyul.

Artikel Selanjutnya Siswa Harvard Bongkar Ciri-Ciri Orang Berhasil Pelihara Tuyul

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *