Tradisi Umat Islam Di Tanah Air Menjelang Ramadan, Hal ini Hukum Nyadran lalu Doa Ziarah Kubur

Ragam50 Dilihat

IDN Bisnis Jakarta –  Ziarah kubur menjauhi Ramadan telah menjadi tradisi bagi sebagian besar umat Islam di dalam tanah air. Bagi sebagian orang, berziarah mendekati Ramadan merupakan bentuk penghormatan terhadap arwah leluhur, biasanya merekan akan membersihkan sekitaran makam lalu membaca doa setelahnya. 

Ada banyak khasiat yang dimaksud dapat dirasakan oleh umat muslim ketika berziarah. Adapun di area antaranya melembutkan hati, mengingatkan terhadap kematian kemudian mengingatkan dengan akhirat. Selain itu, dengan ziarah kubur, manusia akan lebih banyak mawas diri dengan hidup dunia, meningkatkan iman, juga menjadi sarana untuk memperbanyak amal.

Menanggapi ziarah kubur yang tersebut berkaitan erat mendekati bulan Ramadan tersebut. Lantas, apa hukum ziarah kubur mendekati Ramadan?

Ziarah kubur atau nyadran hukumnya diperbolehkan. Ziarah kubur awalnya dilarang pada masa-masa awal Islam akibat dahulu di tradisi Arab ziarah banyak digunakan untuk mendewakan seseorang serta praktik menyekutukan Allah. Selain itu, ada pula peziarah yang mana berteriak, memukul-mukul badan, serta menangis berlebihan.

Namun, larangan itu dicabut setelahnya Islam miliki pondasi yang dimaksud kuat. Nabi Muhammad SAW. justru menganjurkan ziarah sebagai upaya agar tidak ada terjebak pada dunia dan juga mengingat mati. Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Aku sudah pernah melarang kalian dari ziarah kuburan, sekarang berziarahlah. Karena ia dapat menjadikan zuhud di dalam dunia kemudian ingat dengan akhirat.” (H.R. Ibnu Majah)

Hukum Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Dikutip dari nu.or.id, dalil ziarah kubur mendekati Ramadhan juga dituliskan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani pada Nihayatuz Zain. Adapun keterangannya berbunyi: “Disunnahkan berziarah kubur. Barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya di area hari Jumat, maka Allah SWT. mengampuni dosa-dosanya. Dan ia dicatat sebagai anak yang mana berbakti kemudian taat terhadap orang tuanya.”.

Syaikh Nawawi al-Bantani juga menambahkan apabila, “Barangsiapa berziarah kubur ke pemakaman kedua orang tuanya setiap Jumat, maka pahalanya seperti ibadah haji”.

Dalam kitab lain, yakni Al-Maudhu’at berdasarkan hadits Ibnu Umar R.A. disebutkan bahwa yang mana artinya, “Rasulullah bersabda: Barang siapa berziarah ke kuburan bapak atau ibu, paman atau bibi, maupun makam salah satu keluarganya, maka pahalanya sebanyak haji mabrur. Dan barang siapa beristiqomah untuk berziarah kubur sampai ajal menjemput, maka para malaikat akan mengunjungi kuburannya”.

Sementara ziarah kubur mendekati Ramadan bagi wanita, hukumnya makruh. Alasannya, wanita yang berziarah dikhawatirkan timbul keresahan, kegelisahan, kemudian menangis histeris dalam kuburan. Seperti yang dimaksud tertera pada kitab I’anatut Thalibin yang berbunyi, “Dimakruhkan wanita berziarah kubur sebab cenderung melemah hati kemudian jiwa”.

Doa Ziarah kubur

Saat berziarah, doa ziarah kubur adalah salah satu hal yang dimaksud penting untuk diamalkan. Sebab, doa ini adalah tujuan utama dari dilakukannya ziarah kubur, yaitu mendoakan orang yang sudah meninggal dunia. Selain itu doa ini juga miliki keutamaan bagi pembacanya, yaitu mengingatkan tentang kematian.

Dalam Shahih Muslim dijelaskan bahwa Nabi Muhammad pernah melakukan ziarah kubur. Setelah itu Rasulullah saw mengucapkan doa ziarah kubur:

Assalaamu ‘ala ah,lid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa yarhamuallahu almustaqdimiina minna wal mustakhiriina wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiqun.”

Artinya: Salam berhadapan dengan penghuni pemukiman yang mana terdiri dari orang-orang Mukminin dan juga Muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita juga orang-orang belakangan. Sungguh kami insyaAllah benar-benar akan menyusul kami. (H.R Muslim)

Selain itu, berdasarkan riwayat dari Buraidah bin Al Hasib Radhiyallahu Anha, apabila Rasulullah mendatangi pemakaman, beliau akan membaca:

“Assalaamu’alaykum ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal mislimiin wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun wa asalu Allahu lanaa wa lakumul ‘aafiyah.”

Artinya: Selamat menghadapi kamu wahai penghuni pemukiman yang dimaksud terdiri dari kaum Mukminin kemudian kaum Muslimin, juga sungguh kami–InsyaAllah–benar-benar akan menyusul kamu. Aku mohon untuk Allah untuk kami dan juga kamu afiat. (H.R An-Nasa’i)

KHUMAR MAHENDRA  |  WINDA OKTAVIA 

Disclaimer: artikel ini berdasarkan dari rangkuman berbagai sumber
Berita terbaru dan terlengkap hanya ada di IDN Bisnis

Situs ini disponsori oleh: Free Invoice Generator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *